Dalam 12 bulan terakhir, perhatian publik dan profesional medis Indonesia terhadap terobosan pengobatan gangguan retina meningkat pesat.
Perkembangan ini didorong oleh kombinasi data klinis internasional, rilis indikasi obat terbaru, dan pertemuan ilmiah seperti Roche Retina Summit 2025 yang mengumpulkan pakar retina nasional dan internasional.
Cari Berita Lengkap-nya? Klik Disini →
Topik ini menjadi tren karena menjanjikan pengurangan beban injeksi intravitreal, pilihan terapeutik baru untuk penyakit degeneratif retina, serta potensi pemulihan fungsi visual melalui terapi gen dan sel punca.
Data & Fakta Tren
- Faricimab (Vabysmo)
Obat anti-VEGF generasi baru yang didorong oleh Roche, menjadi pusat perhatian setelah hasil studi menunjukkan efektivitas yang baik dan durabilitas lebih lama, berpotensi mengurangi frekuensi injeksi hingga ~75% pada beberapa pasien dibandingkan rejimen lama. Hal ini membuat Faricimab sering disebut sebagai terobosan praktis dalam manajemen nAMD, DME, dan RVO. - Pertemuan ilmiah & adopsi klinis
Roche Retina Summit 2025 di Indonesia menyoroti data klinis terbaru, mendorong diskusi tentang update indikasi dan implementasi Faricimab dalam praktik klinis lokal. Acara tersebut menjadi katalisator diskusi lintas-stakeholder (dokter retina, rumah sakit, regulator, dan industri). - Terapi gen untuk penyakit retina herediter
Sejak persetujuan Luxturna (voretigene neparvovec) untuk mutasi RPE65 di AS/Eropa, pipeline terapi gen retina berkembang pesat; lebih dari 30 uji klinis internasional sedang berjalan untuk pendekatan penyelamat/pemulihan penglihatan pada IRD (Inherited Retinal Diseases). Ini menunjukkan transisi riset dari laboratorium menuju aplikasi klinis. - Terapi sel punca & regeneratif
Studi dan inisiatif lokal serta internasional (termasuk studi awal yang menunjukkan keamanan/efikasi pada beberapa kondisi retina) membuka peluang terapi regeneratif untuk kondisi seperti retinitis pigmentosa dan degenerasi makula. Di Indonesia, topik ini juga mendapat perhatian akademik dan regulator sejak beberapa tahun terakhir. - Beban penyakit retina di Indonesia
Kasus seperti ablasio retina regmatogen tercatat signifikan di fasilitas rujukan; misalnya data RSCM menyebutkan ribuan kasus per tahun yang membutuhkan intervensi untuk mencegah kebutaan permanen — menegaskan pentingnya solusi preventif dan terapi yang lebih efektif.
Analisis & Insight
Penyebab Munculnya Tren ini adalah sbb.:
- Kemajuan klinis & bukti ilmiah
Hasil uji klinis internasional (Faricimab, terapi gen baru, uji sel punca) memberi bukti performa yang dapat diadopsi oleh praktisi Indonesia. Keberadaan data membuat dokter dan rumah sakit lebih berani mengevaluasi integrasi terapi baru. - Kebutuhan klinis nyata
Penyakit retina seperti nAMD, DME, dan RVO memberi beban besar (frekuensi injeksi tinggi, kunjungan rutin). Terapi yang tahan lama atau restoratif merespon pain point ini. - Kolaborasi industri–akademik
Summit, webinar, dan seminar nasional/internasional mempercepat transfer ilmu dan diskusi regulatori/adopsi di rumah sakit rujukan Indonesia.
Dampak terhadap Industri, Masyarakat, dan Perilaku Pengguna:
- Industri Farmasi & Layanan Kesehatan
Peningkatan permintaan untuk obat retina berjangka panjang (seperti Faricimab) mendorong pemasok, distribusi, dan negosiasi harga. Rumah sakit rujukan perlu mempersiapkan infrastruktur (logistik obat, kapasitas pelayanan intravitreal). - Praktik Klinik
Dokter retina akan menyesuaikan protokol tindak lanjut (monitoring OCT, interval injeksi), dengan potensi menurunkan beban kunjungan pasien. Namun, diperlukan pelatihan dan guideline lokal untuk memastikan keamanan transisi. - Pasien & Keluarga
Pengurangan frekuensi injeksi berarti kepatuhan lebih baik, biaya transportasi/absensi kerja berkurang, dan kualitas hidup meningkat bila terapi efektif. Namun akses (ketersediaan, biaya) menjadi faktor penentu adopsi nyata.
Prediksi Jangka Pendek dan Panjang
Untuk jangka pendek (1–2 tahun) adopsi Faricimab di rumah sakit rujukan besar di Indonesia, terutama untuk pasien yang memerlukan regimen anti-VEGF tahan lama. Juga akan lebih banyak seminar/pelatihan dari produsen dan asosiasi oftalmologi. Adapun regulasi indikasi lokal kemungkinan mengikuti data internasional.
Sementara untuk jangka panjang (3–10 tahun) jika terapi gen dan terapi sel punca menunjukkan hasil klinis konsisten, kita bisa melihat program pilot/regulatori untuk terapi yang lebih mahal namun kuratif. Ini akan memicu diskusi pembiayaan (BPJS/insurance), produksi lokal/kerjasama regional, dan strategi aksesibilitas agar manfaat tidak hanya di pusat besar.
Kesimpulan
Terobosan pengobatan gangguan retina saat ini ditandai oleh tiga poros utama yaitu obat biologis generasi baru dengan durabilitas lebih tinggi (contoh: Faricimab), lonjakan aktivitas penelitian terapi gen untuk IRD, serta perkembangan terapi sel punca/regeneratif.
Di Indonesia, momentum ini diperkuat oleh pertemuan ilmiah seperti Roche Retina Summit 2025 dan diskusi lintas-sektor yang mulai memikirkan adopsi praktis serta tantangan akses dan pembiayaan. Untuk memaksimalkan manfaatnya, berikut ini rekomendasi singkat yang mungkin bisa bermanfaat:
- Rumah sakit rujukan perlu menyiapkan protokol integrasi terapi baru (pelatihan, monitoring OCT, manajemen efek samping).
- Pembuat kebijakan & pembiayaan harus memulai evaluasi HTA (health technology assessment) untuk menimbang cost-effectiveness jangka panjang terapi yang mungkin lebih mahal tetapi mengurangi beban perawatan berulang.
- Penyuluhan pasien & deteksi dini tetap krusial, terapi terbaik seringkali yang dimulai tepat waktu. Selain itu, kampanye pendidikan dan screening harus didorong.
Jika tren ini berlanjut, Indonesia berpeluang meningkatkan standar perawatan retina, dari manajemen simptomatik menuju pendekatan yang lebih tahan lama bahkan restoratif, selama masalah akses, harga, dan guideline klinis ditangani secara proaktif.
Sumber kutipan & rujukan berita: Roche Retina Summit (liputan Tempo / Antara / JPNN), artikel fitur tentang Faricimab (Suara), data uji klinis dan pipeline terapi gen (literatur & publikasi retina internasional), dan kajian terapi sel punca (Antara / publikasi lokal).
Bagaimana Menurut Anda?