“Agak Laen” mengisahkan kisah empat sahabat Bene Dion, Oki Rengga, Indra Jegel dan Boris Bokir yang bersama-sama menjalankan sebuah wahana rumah hantu sederhana di pasar malam. Karier mereka tidak mulus karena atraksinya dianggap kurang menyeramkan dan pengunjung pun sedikit.

Suatu hari, demi meningkatkan daya tarik, mereka melakukan renovasi dan “menaikkan level” wahana rumah hantunya. Namun kejadian tak terduga muncul saat seorang pengunjung, tanpa sengaja, mengalami serangan jantung di dalam wahana itu.

Alih-alih melapor atau mundur, keempat sahabat itu memilih cara ekstrem, yaitu mereka menyembunyikan jasad pengunjung di dalam wahana tersebut, berharap tak dilaporkan ke polisi.

Kejadian itu malah memberi efek samping yang tak disangka dimana rumah hantu mereka menjadi viral karena dianggap benar-benar angker. Pengunjung pun berdatangan banyak-banyak untuk merasakan “sensasi nyata”. Namun, di balik viralitas tersebut muncul konflik moral, ancaman hukum, hingga persoalan persahabatan yang diuji saat rahasia gelap mulai mengambang ke permukaan.

Dengan latar yang campur antara komedi situasi, horor ringan, dan satire sosial, film ini membawa penonton melewati tawa, deg-deg an, hingga ke daerah “hamil penuh pikiran” ketika para tokoh harus memilih: terus mengejar keuntungan atau memperbaiki kesalahan.

Pandangan Saya

Film “Agak Laen” menurut saya merupakan salah satu contoh matang bagaimana perfilman komedi Indonesia bisa berevolusi: dari sekadar lelucon ringan menjadi karya dengan struktur cerita yang lebih kompleks, karakter yang terasa nyata, dan pesan yang terselip tanpa terasa menggurui.

Beberapa poin yang ingin saya soroti adalah:

  1. Keberanian genre campuran
    Menggabungkan unsur horor dan komedi bukan hal baru, tapi film ini melakukannya dengan cukup mulus. Adegan yang lucu tidak langsung “mematikan” atmosfer horornya, dan sebaliknya horor-nya tidak menghancurkan lelucon. Itu menjadikannya “agak laen” seperti judulnya.
  2. Refleksi sosial ringan
    Di balik premis rumah hantu viral, ada kritik halus terhadap budaya viral, pencarian sensasi, hingga bagaimana manusia bisa mengambil jalan pintas untuk kesuksesan cepat walau moralnya abu-abu.
  3. Chemistry pelaku utama
    Empat aktor utama memiliki latar sebagai pelawak/komika yang cukup dikenal. Hal ini memberi keuntungan karena timing humor mereka alami, tetapi tetap terasa tantangan saat harus menyentuh sisi dramatis. Dan menurut beberapa ulasan, efek dramatisnya memang “kurang tajam” dibanding bagian komedinya.

Kritik kecil: Sebagai film komedi-horor populer, film ini tidak lepas dari elemen-elemen yang terasa “cukup Indonesia” (referensi budaya, dialek, humor lokal) sehingga mungkin sedikit sulit bagi penonton internasional atau yang tidak familiar dengan budaya Bahasa/lingkungan Indonesia. Selain itu, beberapa ulasan mengkritik penempatan produk/promosi yang terasa agak mencolok.

Melihat keberhasilan komersialnya (film ini tercatat sebagai film Indonesia dengan penonton sangat besar). Hal ini menunjukkan bahwa ketika film lokal berani bereksperimen dan tetap menjaga keterhubungan dengan penonton, hasilnya bisa luar biasa.

Secara keseluruhan, menurut saya “Agak Laen” adalah tontonan yang menyenangkan—tidak terlalu berat, tetap menghibur, tapi memiliki “lapisan” yang bisa membuat penonton berpikir sedikit setelah tertawa. Untuk Anda yang mencari film Indonesia yang “lebih dari sekadar lelucon”, film ini layak masuk daftar.

Kesimpulan

“Agak Laen” adalah pilihan tepat jika Anda ingin menikmati film yang mengocok tawa sekaligus menghadirkan elemen tak terduga. Dengan sinopsis yang menarik, karakter yang khas, dan tema yang cukup fresh untuk pasar lokal, film ini menegaskan bahwa perfilman Indonesia masih punya ruang besar untuk inovasi.

Jika Anda belum menontonnya, saya sangat menyarankan untuk menontonnya di bioskop atau layanan streaming resmi (jika tersedia) dan merasakan sendiri perpaduan horor-komedi yang “agak laen”.

Leave a Reply