7 Saham Fundamental Pilihan Pekan Ini
Memasuki awal September 2026, peluang di Bursa Efek Indonesia tidak hanya datang dari saham yang sedang bergerak cepat. Untuk profil risiko moderat, pendekatan yang lebih masuk akal adalah mencari saham dengan fundamental relatif kuat, likuiditas memadai, valuasi yang masih dapat dipertanggungjawabkan, serta momentum teknikal yang mendukung.
- 7 Saham Fundamental Pilihan Pekan Ini
- Kondisi IHSG dan Sentimen Pasar
- 1. BMRI – Bank Mandiri (Persero) Tbk
- 2. BBCA – Bank Central Asia Tbk
- 3. BBRI Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
- 4. TLKM – Telkom Indonesia (Persero) Tbk
- 5. PTBA – Bukit Asam Tbk
- 6. PGAS – Perusahaan Gas Negara Tbk
- 7. JSMR – Jasa Marga (Persero) Tbk
- Ranking Akhir 7 Saham
- Kesimpulan dan Saham Pilihan
- Strategi untuk Profil Risiko Moderat
Analisa ini menggunakan horizon sekitar satu minggu dengan data harga penutupan 31 Agustus 2026. Karena horizon pendek, Opportunity Score memberikan bobot lebih besar kepada momentum teknikal, volume dan aliran dana, katalis, serta sentimen pasar; fundamental dan valuasi tetap menjadi filter utama agar kandidat tidak semata-mata dipilih karena sedang naik.
Komposisi Opportunity Score yang digunakan adalah: teknikal dan momentum 30%, volume/flow 20%, katalis dan sentimen 20%, fundamental 20%, serta valuasi dan risk/reward 10%. Probabilitas bullish, base case, dan bearish di bawah merupakan estimasi analitis, bukan probabilitas statistik yang menjamin hasil perdagangan.
Kondisi IHSG dan Sentimen Pasar
IHSG menutup perdagangan 31 Agustus 2026 pada 6.525,48, naik tipis 0,11%. Nilai transaksi melonjak sekitar 60% menjadi Rp25,02 triliun, antara lain terkait berakhirnya periode rebalancing MSCI. BRI Danareksa Sekuritas menilai struktur IHSG masih bullish karena indeks berada di atas MA20 sekitar 6.397, sementara 6.550 menjadi resistance jangka pendek yang penting.
Dari sisi makro, Bank Indonesia pada RDG 18–19 Agustus mempertahankan BI-Rate 5,75%. BI juga mencatat rupiah pada 18 Agustus berada di Rp17.855 per dolar AS, menguat 0,78% dibanding akhir Juli. Kebijakan stabilisasi rupiah tetap menjadi faktor penting karena volatilitas global masih tinggi.
Arus dana asing belum sepenuhnya kondusif. Sepanjang 24–28 Agustus, investor asing mencatat net sell Rp1,31 triliun di pasar reguler, meskipun seluruh pasar masih mencatat net buy sekitar Rp275–279 miliar. BMRI dan BBCA termasuk penerima inflow terbesar, masing-masing sekitar Rp580 miliar dan Rp386,5 miliar, sedangkan BBRI mengalami net sell sekitar Rp473 miliar.
Menariknya, pada sesi pertama 31 Agustus terjadi perubahan pada BBRI: saham ini mencatat pembelian asing sekitar Rp164 miliar. Data akhir Agustus juga menunjukkan BBRI menjadi salah satu top foreign buy sekitar Rp371 miliar pada perdagangan 31 Agustus. Artinya, tekanan asing sebelumnya mulai menunjukkan indikasi reversal, tetapi belum cukup panjang untuk disebut tren akumulasi baru.
Secara keseluruhan, skenario dasar IHSG untuk satu minggu masih netral-bullish, tetapi breakout 6.550 akan menjadi konfirmasi yang lebih kuat. Kegagalan bertahan di atas area MA20 sekitar 6.397 akan meningkatkan risiko koreksi.
1. BMRI – Bank Mandiri (Persero) Tbk
- Harga terakhir: Rp4.230 pada 31 Agustus 2026.
- Opportunity Score: 88/100 — Rank #1.
- Modal minimum 1 lot: sekitar Rp423.000 sebelum fee transaksi.
- Probabilitas estimasi: bullish 48%, base case/konsolidasi 37%, bearish 15%.
Thesis: [Bank Mandiri](https://reference-url-citation.invalid/5) menjadi kandidat terkuat karena kombinasi fundamental, valuasi, foreign flow, dan momentum masih relatif seimbang. Harga 31 Agustus hanya turun 0,47% ke Rp4.230 meskipun volume mencapai sekitar 231,3 juta saham, jauh lebih besar daripada 111,5 juta saham pada perdagangan sebelumnya.
Dari sisi teknikal, RSI(14) berada sekitar 53,9 atau netral, sementara MACD masih memberikan sinyal beli. Kondisi ini lebih menarik untuk profil moderat dibanding saham yang sudah sangat overbought karena masih terdapat ruang pergerakan tanpa momentum yang terlalu panas.
Fundamental: Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi sekitar Rp30,4 triliun pada semester I 2026, tumbuh 24,4% YoY. Data investor relations Bank Mandiri juga menunjukkan ROE sekitar 20,9% per Juni 2026.
Valuasinya menarik dibanding kualitas profitabilitasnya. Data per 31 Agustus menunjukkan trailing PER sekitar 6,34 kali, PBV 1,35 kali dan ROE 22,38%.
Flow: BMRI merupakan penerima foreign net buy terbesar pada pekan 24–28 Agustus, sekitar Rp580 miliar. Ini menjadi salah satu faktor yang paling meningkatkan skornya untuk horizon pendek.
Skenario satu minggu:
- Bullish: harga bertahan di atas Rp4.200 dan menembus Rp4.280; area Rp4.350–Rp4.450 menjadi sasaran lanjutan berbasis ekspansi dari range perdagangan terbaru.
- Base case: konsolidasi Rp4.180–Rp4.300 sambil membentuk basis baru.
- Bearish: penutupan tegas di bawah Rp4.150–Rp4.180 akan melemahkan thesis jangka pendek.
Risiko: pelemahan sektor perbankan akibat rupiah, perubahan ekspektasi suku bunga, atau pembalikan foreign flow. Karena target di atas merupakan area skenario dan bukan target analis satu minggu, level tersebut harus dibaca sebagai zona probabilistik.
2. BBCA – Bank Central Asia Tbk
- Harga terakhir: Rp6.475 pada 31 Agustus 2026 berdasarkan data penutupan yang digunakan dalam analisa.
- Opportunity Score: 86/100 — Rank #2.
- Modal minimum 1 lot: sekitar Rp647.500 sebelum fee.
- Probabilitas estimasi: bullish 46%, base case 40%, bearish 14%.
Thesis: [BCA](https://reference-url-citation.invalid/12) merupakan kandidat defensif utama. RSI(14) berada di 55,0 dan MACD positif. Harga juga berada di atas SMA20 sekitar Rp6.446, SMA50 Rp6.409, dan SMA200 Rp6.372. Struktur tersebut menunjukkan tren pendek hingga menengah yang membaik tanpa kondisi overbought ekstrem.
Pivot klasik menunjukkan support sekitar Rp6.425–Rp6.400 dan resistance Rp6.500–Rp6.525. Karena Rp6.525 juga merupakan high perdagangan terakhir, breakout level tersebut akan menjadi konfirmasi penting.
Fundamental: BCA mencatat laba bersih konsolidasi Rp29,5 triliun pada semester I 2026 dibanding Rp28,5 triliun setahun sebelumnya. Kredit tumbuh sekitar 8% YoY menjadi Rp1.036 triliun.
Valuasi BBCA memang masih premium terhadap bank besar lain, tetapi telah terkompresi cukup signifikan. PER saat ini sekitar 13,72 kali dan PBV sekitar 2,94 kali, dibanding PER 17,30 kali dan PBV 3,53 kali pada FY2025. ROE berada sekitar 21,82%.
Flow: investor asing mencatat net buy BBCA sekitar Rp386,5 miliar selama pekan 24–28 Agustus.
Skenario:
- Bullish: breakout Rp6.525 membuka peluang menuju Rp6.650–Rp6.750.
- Base case: bergerak di Rp6.400–Rp6.525.
- Bearish: breakdown Rp6.400, terutama jika berlanjut di bawah area MA200 sekitar Rp6.370.
Risiko: valuasi BBCA tetap lebih tinggi dibanding bank BUMN sehingga saham dapat sensitif terhadap perubahan risk appetite. Namun kualitas fundamental dan posisi teknikal menjadikannya kandidat paling defensif dalam daftar ini.
3. BBRI Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
- Harga terakhir: Rp3.250 pada 31 Agustus 2026, naik 1,88%.
- Opportunity Score: 84/100 — Rank #3.
- Modal minimum 1 lot: sekitar Rp325.000.
- Probabilitas estimasi: bullish 47%, base case 32%, bearish 21%.
Thesis: [BRI](https://reference-url-citation.invalid/19) memiliki momentum paling kuat di antara bank besar yang dipilih, tetapi risikonya juga lebih tinggi karena indikator mulai panas.
Harga berada di atas SMA20 Rp3.182, SMA50 Rp3.168 dan SMA200 Rp3.071. MACD berada di wilayah beli. Namun RSI(14) telah mencapai sekitar 72,7 dan StochRSI juga overbought. Ini berarti tren bullish kuat tetapi risiko profit taking jangka sangat pendek meningkat.
Volume perdagangan 31 Agustus mencapai sekitar 353,8 juta saham, melonjak dari sekitar 135,4 juta saham pada sesi sebelumnya.
Fundamental: laba bersih BRI semester I 2026 tumbuh sekitar 17,5% YoY menjadi sekitar Rp31,2 triliun.
PER trailing sekitar 7,98 kali dengan laba TTM sekitar Rp61,24 triliun. Valuasi tersebut relatif tidak mahal untuk bank dengan skala bisnis BRI, meskipun risiko kualitas aset dan sensitivitas segmen mikro tetap perlu diperhatikan.
Flow: selama 24–28 Agustus BBRI masih mengalami foreign net sell sekitar Rp473 miliar. Namun pada sesi pertama 31 Agustus terjadi net buy asing sekitar Rp164 miliar, dan data akhir perdagangan menunjukkan BBRI menjadi top foreign buy sekitar Rp371 miliar. Ini merupakan indikasi awal reversal flow yang perlu dikonfirmasi beberapa sesi berikutnya.
Skenario:
- Bullish: bertahan di atas Rp3.230–Rp3.250 dan breakout Rp3.270 membuka ruang menuju Rp3.350–Rp3.450.
- Base case: konsolidasi Rp3.180–Rp3.300 setelah rally.
- Bearish: kehilangan Rp3.180–Rp3.200 meningkatkan peluang kembali menguji sekitar Rp3.100.
Risiko: RSI overbought membuat BBRI rawan pullback meskipun tren utama bullish. Karena itu saham ini lebih cocok dibeli setelah pullback sehat atau breakout yang disertai volume daripada mengejar harga secara agresif.
4. TLKM – Telkom Indonesia (Persero) Tbk
- Harga terakhir: Rp2.600 pada 31 Agustus 2026, naik 1,17%.
- Opportunity Score: 82/100 — Rank #4.
- Modal minimum 1 lot: sekitar Rp260.000.
- Probabilitas estimasi: bullish 44%, base case 39%, bearish 17%.
Thesis: [Telkom Indonesia](https://reference-url-citation.invalid/26) menarik karena fundamental semester I membaik, valuasi lebih rendah dibanding FY2025, dan harga mulai mencoba keluar dari fase konsolidasi.
RSI(14) sekitar 54,6 atau netral. Harga Rp2.600 berada di atas MA20 sekitar Rp2.582 dan berdekatan dengan MA50 sekitar Rp2.599, tetapi masih di bawah SMA200 sekitar Rp2.638. MACD masih negatif, sehingga saham belum memperoleh konfirmasi bullish penuh.
Fundamental: semester I 2026 Telkom membukukan pendapatan Rp75,9 triliun, naik 3,9% YoY. EBITDA naik 3,8% menjadi Rp37,5 triliun, laba bersih Rp10,6 triliun naik 1,4%, sedangkan laba bersih normalisasi tumbuh 6,2%. Arus kas operasi tumbuh 7% menjadi Rp34,9 triliun.
Valuasi per Agustus menunjukkan PER sekitar 14,15 kali dan PBV 1,88 kali, dibanding PER 19,35 kali dan PBV 2,29 kali pada FY2025.
Flow: TLKM mengalami foreign net sell sekitar Rp74,3 miliar pada pekan 24–28 Agustus, sehingga flow belum sekuat BMRI atau BBCA.
Skenario:
- Bullish: breakout Rp2.640 berpotensi membawa harga menuju Rp2.700–Rp2.760.
- Base case: konsolidasi Rp2.570–Rp2.640.
- Bearish: breakdown Rp2.550–Rp2.570 melemahkan setup recovery.
Risiko: harga masih menghadapi MA200, sementara foreign flow belum mendukung secara konsisten. Karena itu TLKM lebih tepat diperlakukan sebagai kandidat recovery daripada momentum breakout yang sudah terkonfirmasi.
5. PTBA – Bukit Asam Tbk
- Harga terakhir: Rp2.560 pada 31 Agustus 2026, naik 1,19%.
- Opportunity Score: 80/100 — Rank #5.
- Modal minimum 1 lot: sekitar Rp256.000.
- Probabilitas estimasi: bullish 44%, base case 34%, bearish 22%.
Thesis: [Bukit Asam](https://reference-url-citation.invalid/32) memberikan diversifikasi dari sektor finansial dengan kombinasi valuasi relatif rendah dan struktur tren yang masih positif.
RSI(14) sekitar 62,9 dan MACD memberikan sinyal beli. Harga berada di sekitar MA5 Rp2.564 tetapi masih di atas SMA20 Rp2.529, SMA50 Rp2.461 dan SMA200 Rp2.391. Ini menunjukkan tren menengah relatif kuat, meskipun kenaikan jangka pendek mulai membutuhkan katalis tambahan.
Harga perdagangan 31 Agustus berada pada range Rp2.540–Rp2.590 dengan volume sekitar 30,2 juta saham. Pada 28 Agustus saham sempat mencapai Rp2.640, sehingga Rp2.590–Rp2.640 menjadi zona supply yang relevan.
Fundamental: data resmi PTBA untuk kuartal I 2026 menunjukkan pendapatan sekitar Rp9,93 triliun dan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sekitar Rp801,79 miliar. Harga batu bara dan biaya bahan bakar tetap menjadi variabel penting bagi profitabilitas.
PER sekitar 8,74 kali berdasarkan data pasar per 31 Agustus 2026.
Skenario:
- Bullish: breakout Rp2.590 kemudian Rp2.640 dapat membuka peluang ke Rp2.700.
- Base case: bergerak Rp2.520–Rp2.640.
- Bearish: penutupan di bawah MA20 sekitar Rp2.529 meningkatkan peluang pullback menuju Rp2.460–Rp2.500.
Risiko: harga batu bara, biaya energi, volatilitas komoditas global, serta perubahan sentimen terhadap saham high-dividend commodity. Fundamental PTBA baik dari sisi neraca dan kemampuan menghasilkan kas, tetapi laba tetap bersifat siklikal.
6. PGAS – Perusahaan Gas Negara Tbk
- Harga terakhir: Rp1.530 pada 31 Agustus 2026, naik 1,32%.
- Opportunity Score: 78/100 — Rank #6.
- Modal minimum 1 lot: sekitar Rp153.000.
- Probabilitas estimasi: bullish 42%, base case 38%, bearish 20%.
Thesis: [Perusahaan Gas Negara](https://reference-url-citation.invalid/38) merupakan kandidat value/recovery. Valuasinya relatif rendah, volatilitas historis saham relatif terkendali, dan harga sedang mencoba bertahan di atas cluster moving average.
Data teknikal 31 Agustus menunjukkan RSI sekitar 57,4 dan MACD positif pada pembaruan hari tersebut. MA20 berada sekitar Rp1.519, MA50 Rp1.521 dan MA200 sekitar Rp1.513.
Harga terakhir Rp1.530 berarti saham berada sedikit di atas kumpulan MA tersebut. Secara price action, area Rp1.495–Rp1.510 menjadi support terdekat, sementara Rp1.540–Rp1.560 merupakan resistance berdasarkan high beberapa sesi terakhir.
Valuasi: PGAS diperdagangkan pada PER sekitar 8,98 kali dan PBV 0,59 kali. PBV tersebut berada di bawah FY2025 sekitar 0,77 kali.
Skenario:
- Bullish: breakout Rp1.560 membuka peluang menuju sekitar Rp1.600–Rp1.650.
- Base case: konsolidasi Rp1.500–Rp1.560.
- Bearish: breakdown Rp1.495 dapat mengembalikan harga ke zona yang lebih rendah dan membatalkan thesis breakout jangka pendek.
Risiko: kebijakan harga gas, volatilitas energi, regulasi pemerintah dan perubahan margin distribusi/transmisi gas. PGAS lebih menarik dari sisi valuasi daripada momentum, sehingga konfirmasi breakout tetap diperlukan.
7. JSMR – Jasa Marga (Persero) Tbk
- Harga terakhir: Rp2.960 pada 31 Agustus 2026, naik 4,59%.
- Opportunity Score: 76/100 — Rank #7.
- Modal minimum 1 lot: sekitar Rp296.000.
- Probabilitas estimasi: bullish 43%, base case 29%, bearish 28%.
Thesis: [Jasa Marga](https://reference-url-citation.invalid/43) mempunyai kombinasi katalis fundamental dan momentum paling agresif dalam daftar ini. Namun karena harga baru melonjak 4,59% dalam sehari, risikonya juga paling tinggi.
Volume 31 Agustus mencapai sekitar 8,25 juta saham, dibanding sekitar 3,02 juta saham pada sesi sebelumnya. Harga juga naik dari Rp2.830 menjadi Rp2.960.
Momentum tersebut membuat RSI memasuki area overbought. Data teknikal menunjukkan RSI(14) sekitar 82,6, MACD positif dan ADX sekitar 60. Moving average memberikan sinyal bullish, tetapi kondisi overbought membuat risk/reward untuk mengejar harga menjadi kurang ideal.
Katalis: laporan kinerja semester I 2026 yang dipublikasikan 31 Agustus menunjukkan pendapatan usaha Rp10,3 triliun, tumbuh 7,6%; pendapatan tol Rp9,5 triliun naik 6,8%; dan laba bersih sekitar Rp1,9 triliun, tumbuh 2%. EBITDA meningkat 8,1% dengan margin sekitar 67,8%.
PER sekitar 6,13 kali berdasarkan data pasar 31 Agustus, sehingga valuasinya masih relatif rendah meskipun harga mengalami rally harian.
Skenario:
- Bullish: mampu bertahan di Rp2.900–Rp2.960 dan menembus Rp3.000 membuka peluang menuju Rp3.060–Rp3.100.
- Base case: konsolidasi/pullback sehat menuju Rp2.850–Rp2.950.
- Bearish: kehilangan Rp2.830 meningkatkan risiko false breakout dan retracement lebih dalam.
Risiko: RSI sangat overbought, sehingga profit taking merupakan risiko nyata. JSMR memiliki potensi persentase kenaikan menarik tetapi juga merupakan kandidat dengan risiko timing tertinggi dalam daftar.
Ranking Akhir 7 Saham
| Rank | Kode | Harga Terakhir | Tanggal Harga | Opportunity Score | Potensi/Setup | Risiko | Support | Resistance/Area Target | Katalis Utama |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | BMRI | Rp4.230 | 31/08/2026 | 88 | Momentum + foreign accumulation + valuasi | Moderat | Rp4.150–4.200 | Rp4.280; Rp4.350–4.450 | Laba H1 +24,4% YoY, foreign inflow |
| 2 | BBCA | Rp6.475 | 31/08/2026 | 86 | Defensif + breakout candidate | Moderat-rendah | Rp6.400–6.425 | Rp6.525; Rp6.650–6.750 | Pertumbuhan kredit dan laba, foreign inflow |
| 3 | BBRI | Rp3.250 | 31/08/2026 | 84 | Momentum kuat + indikasi reversal flow | Moderat-tinggi | Rp3.180–3.200 | Rp3.270; Rp3.350–3.450 | Laba +17,5%, foreign buying 31 Agustus |
| 4 | TLKM | Rp2.600 | 31/08/2026 | 82 | Recovery + valuasi lebih murah | Moderat | Rp2.550–2.570 | Rp2.640; Rp2.700–2.760 | Pertumbuhan EBITDA dan normalized profit |
| 5 | PTBA | Rp2.560 | 31/08/2026 | 80 | Uptrend + value/commodity | Moderat | Rp2.520–2.530 | Rp2.590–2.640; Rp2.700 | Tren teknikal dan valuasi |
| 6 | PGAS | Rp1.530 | 31/08/2026 | 78 | Value + recovery | Moderat | Rp1.495–1.510 | Rp1.540–1.560; Rp1.600–1.650 | Valuasi rendah dan recovery teknikal |
| 7 | JSMR | Rp2.960 | 31/08/2026 | 76 | Breakout kuat + volume | Tinggi | Rp2.830–2.900 | Rp3.000; Rp3.060–3.100 | Kinerja H1 2026 dan lonjakan volume |
Kesimpulan dan Saham Pilihan
- Top Pick #1: BMRI. Kombinasi laba semester I yang tumbuh 24,4%, ROE tinggi, PER sekitar 6,3 kali, momentum yang belum overbought, likuiditas tinggi dan foreign net buy sekitar Rp580 miliar pada pekan terakhir membuat risk/reward BMRI paling seimbang untuk profil moderat.
- Kandidat paling defensif: BBCA. Fundamental dan kualitas bisnis tetap kuat, RSI masih moderat, tren berada di atas MA20/MA50/MA200, serta terdapat foreign accumulation. BBCA menjadi pilihan jika prioritas utama adalah kualitas dan stabilitas relatif dibanding mengejar momentum tertinggi.
- Potensi tinggi tetapi risiko terbesar: JSMR. Kenaikan volume, breakout harga dan laporan semester I yang positif memberikan katalis kuat. Namun RSI di atas 80 menunjukkan kondisi sangat overbought sehingga risiko profit taking jauh lebih besar. BBRI juga perlu diperhatikan karena RSI telah menembus 70.
- IHSG: bias satu minggu masih netral-bullish selama indeks mampu bertahan di atas area MA20 sekitar 6.397. Resistance 6.550 menjadi level konfirmasi penting. Breakout yang valid dapat meningkatkan peluang saham big caps melanjutkan kenaikan, sedangkan kegagalan menembusnya dapat mempertahankan pasar dalam fase konsolidasi.
- Prediksi dapat menjadi tidak berlaku apabila terjadi pelemahan tajam rupiah, perubahan ekspektasi suku bunga global/domestik, foreign outflow besar, eskalasi geopolitik, penurunan IHSG di bawah support teknikal utama, berita emiten yang material, atau masing-masing saham menembus level invalidasi yang disebutkan di atas.
Strategi untuk Profil Risiko Moderat
Dari tujuh kandidat tersebut, pendekatan yang paling seimbang bukan mengejar seluruh saham sekaligus. BMRI dan BBCA mempunyai kombinasi risk/reward paling menarik; BBRI menawarkan momentum lebih tinggi tetapi sudah lebih panas; sedangkan TLKM memberikan alternatif recovery dengan fundamental semester I yang membaik.
PTBA dan PGAS dapat berfungsi sebagai diversifikasi sektor, sedangkan JSMR lebih tepat dipantau untuk pullback atau konfirmasi breakout karena kenaikan 31 Agustus sudah cukup tajam.
Untuk horizon hanya satu minggu, level teknikal dan perkembangan foreign flow dapat menjadi lebih dominan daripada valuasi jangka panjang. Karena itu, saham dengan fundamental bagus sekalipun dapat turun apabila IHSG melemah, rupiah tertekan, atau terjadi risk-off global.
Artikel Terkait
7 Saham IPO BEI yang Menarik Dicermati pada Minggu Pertama Agustus 2026
Rekomendasi Saham Sektor Spesifik Minggu Ketiga Mei 2026, Potensi Menarik Saat Market Bergerak Selektif
Rekomendasi Saham Sektor Barang Baku BEI untuk Minggu Ketiga Juli 2026
5 Rekomendasi Saham Blue Chip Minggu ke-3 Juli 2026, Masih Layak Dikoleksi Saat IHSG Menguat?
Top 5 Saham Potensi Cuan Minggu Kedua Mei 2026: Pilihan Menarik di Tengah Peluang Rebound IHSG
Top 10 Saham Growth Minggu Ini (13–19 April 2026), Peluang Cuan di Tengah Penguatan IHSG