Saham Breakout Pilihan Pekan Ini

Saham breakout menarik karena harga berusaha keluar dari area konsolidasi atau resistance yang sebelumnya menahan kenaikan. Namun, breakout bukan jaminan harga akan terus naik. Breakout tanpa volume, terjadi terlalu jauh dari support, atau muncul ketika pasar sedang melemah justru rawan berubah menjadi false breakout.

Karena horizon analisa hanya satu minggu dan profil risiko yang digunakan moderat, screening kali ini tidak semata-mata mencari saham dengan momentum tertinggi. Kandidat harus memiliki kombinasi teknikal, likuiditas, katalis, kondisi fundamental, serta jarak antara potensi kenaikan dan level invalidasi yang masih rasional.

Screening menghasilkan tujuh kandidat utama: DSNG, INDY, ADMR, BBNI, ITMG, PGAS, dan PGEO. Sebagian sudah berada pada fase breakout/continuation, sedangkan beberapa lainnya masih membutuhkan konfirmasi resistance sebelum thesis bullish dianggap aktif.

Breakout Saham Individual Tetap Perlu Selektif

Fakta terverifikasi: IHSG ditutup pada 6.501,67 pada perdagangan 24 Agustus 2026, turun 0,37%, dengan foreign net sell sekitar Rp556 miliar. BNI Sekuritas menempatkan support IHSG di 6.400–6.500 dan resistance 6.550–6.600.

Pada perdagangan pagi 26 Agustus, volatilitas meningkat. IHSG sempat dibuka sekitar 6.507 dan kemudian turun hingga sekitar 6.422–6.464 sebelum kembali bergerak. Ini menunjukkan bahwa pasar sedang mengalami tarik-menarik kuat antara buyer dan seller.

Data pasar yang diperbarui sekitar akhir sesi juga menunjukkan IHSG kembali berada sekitar 6.522. Dengan kata lain, kondisi indeks belum menunjukkan breakdown yang bersih, tetapi volatilitas intraday cukup besar sehingga strategi breakout sebaiknya mensyaratkan konfirmasi volume dan tidak mengejar harga yang sudah terlalu jauh.

Interpretasi: selama IHSG mampu bertahan di sekitar 6.400–6.450 dan kembali menguji 6.550–6.600, breakout pada saham-saham individual masih memiliki lingkungan yang cukup mendukung. Sebaliknya, penutupan IHSG di bawah area tersebut akan menurunkan probabilitas keberhasilan sebagian besar setup bullish dalam screening ini.

Metodologi Opportunity Score

Untuk horizon satu minggu, Opportunity Score 0–100 menggunakan bobot yang lebih besar pada faktor jangka pendek:

  • Teknikal dan kualitas breakout: 30%
  • Volume, likuiditas dan flow: 20%
  • Katalis: 15%
  • Sentimen pasar/sektor: 10%
  • Fundamental: 15%
  • Valuasi dan risk/reward: 10%

Opportunity Score bukan probabilitas harga pasti naik. Sementara persentase bullish, base case, dan bearish di bawah merupakan estimasi probabilistik analitis berdasarkan kondisi yang berhasil diverifikasi pada saat riset dilakukan.

1. DSNG – PT Dharma Satya Nusantara Tbk

Harga terbaru terverifikasi: sekitar Rp1.470 pada perdagangan 26 Agustus 2026 saat data historis diperbarui. Harga sebelumnya ditutup Rp1.460 pada 24 Agustus. Rentang intraday 26 Agustus tercatat sekitar Rp1.455–Rp1.485.

Opportunity Score: 87/100 — Rank #1.

Estimasi modal minimum 1 lot: Rp1.470 × 100 = Rp147.000, belum termasuk fee transaksi.

Thesis: DSNG merupakan setup breakout paling lengkap dalam screening. Harga telah bergerak naik dari Rp1.360 pada 19 Agustus menjadi Rp1.420 pada 20 Agustus, Rp1.440 pada 21 Agustus, Rp1.460 pada 24 Agustus, lalu menguji Rp1.485 pada 26 Agustus. Struktur ini membentuk rangkaian higher high dan higher low.

Yang menarik, penguatan 20–21 Agustus disertai volume sekitar 9,47 juta dan 10 juta saham, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata harian terbaru sekitar 2,1 juta saham. Ini merupakan salah satu konfirmasi terpenting bahwa kenaikan sebelumnya tidak terjadi dalam kondisi transaksi yang tipis.

Teknikal: data 24 Agustus menunjukkan RSI sekitar 63,7, MACD +26,9 dan harga berada di atas MA20 sekitar Rp1.442, MA50 Rp1.372, MA100 Rp1.361 serta MA200 sekitar Rp1.315. Seluruh struktur moving average menengah-panjang masih bullish.

  • Support pertama: Rp1.440–Rp1.455.
  • Support mayor: Rp1.400–Rp1.420.
  • Resistance breakout: Rp1.485–Rp1.500.
  • Area target lanjutan: Rp1.540–Rp1.610 apabila breakout Rp1.500 terkonfirmasi.

Katalis dan fundamental: DSNG membukukan pendapatan semester I 2026 sebesar Rp6,29 triliun, tumbuh 3,4% YoY, sedangkan laba bersih meningkat 7,8% menjadi Rp985,88 miliar. Segmen sawit menyumbang sekitar 90% pendapatan dan laba; efisiensi juga menekan beban keuangan.

IPOT juga mencatat bahwa trade flow DSNG menunjukkan indikasi akumulasi smart money dan harga telah bergerak di atas EMA5 hingga EMA50. Untuk perdagangan pekan 24–28 Agustus, entry Rp1.440, target Rp1.610 dan stop Rp1.380 sempat digunakan sebagai skenario teknikal.

Interpretasi: fundamental memberi “fondasi”, sementara momentum harga dan volume memberikan katalis taktis. Namun harga sudah mendekati resistance sehingga risk/reward terbaik bukan saat mengejar lonjakan jauh di atas Rp1.500, melainkan ketika breakout terkonfirmasi atau terjadi retest sehat.

  • Bullish — 54%: breakout dan bertahan di atas Rp1.500 membuka peluang Rp1.540 lalu Rp1.580–Rp1.610.
  • Base case — 29%: konsolidasi Rp1.440–Rp1.500 sebelum menentukan arah berikutnya.
  • Bearish — 17%: gagal breakout dan kembali menembus Rp1.440 dapat membawa harga ke Rp1.400–Rp1.420.

Invalidasi thesis: penutupan di bawah Rp1.400, terutama jika terjadi dengan volume jual tinggi.

Risiko utama: profit taking setelah kenaikan cepat, koreksi harga CPO, breakout tanpa peningkatan volume baru, dan pelemahan IHSG.

2. INDY – PT Indika Energy Tbk

Harga terbaru terverifikasi: sekitar Rp2.800 pada 26 Agustus 2026 saat data tertunda diperbarui, naik sekitar 2,94%, dengan rentang harian Rp2.680–Rp2.820.

Opportunity Score: 86/100 — Rank #2.

Estimasi modal 1 lot: sekitar Rp280.000.

Thesis: INDY telah menguji dan menembus resistance jangka pendek Rp2.760–Rp2.780 yang sebelumnya beberapa kali menjadi hambatan. Kenaikan ke sekitar Rp2.800 berarti breakout mulai terjadi, tetapi karena harga sudah bergerak cukup cepat, risiko pullback menjadi lebih tinggi daripada ketika berada di area Rp2.680–Rp2.720.

BNI Sekuritas pada pagi 26 Agustus menempatkan INDY sebagai speculative buy pada Rp2.680–Rp2.720 dengan target Rp2.760–Rp2.810 dan cut loss di bawah Rp2.680. Harga intraday kemudian mencapai Rp2.820.

Teknikal 24 Agustus: RSI 59,85, MACD +28,49 dan ADX 34,4. Harga berada di atas MA20 sekitar Rp2.695, MA50 Rp2.627, MA100 Rp2.589, dan MA200 sekitar Rp2.536.

Volume 24 Agustus mencapai sekitar 29 juta saham, meningkat dari 17,41 juta pada 21 Agustus. Sebelumnya, penguatan 18 dan 20 Agustus masing-masing disertai volume sekitar 43,21 juta dan 35,19 juta saham.

  • Support terdekat: Rp2.720–Rp2.760.
  • Support kuat: Rp2.680–Rp2.700.
  • Resistance: Rp2.820.
  • Area target breakout lanjutan: Rp2.900–Rp3.000.

Fundamental: semester I 2026 INDY mencatat pendapatan US$1,1469 miliar, tumbuh 19,9% YoY. Laba bersih naik menjadi US$10,2 juta dari US$2,2 juta dan adjusted EBITDA meningkat 43,8% menjadi US$139,1 juta, dengan margin naik dari 10,1% menjadi 12,1%.

Perusahaan juga melaporkan fasilitas pendanaan US$155 juta pada 7 Agustus 2026, sementara transformasi portofolio menuju bisnis non-batubara tetap menjadi tema strategis.

Interpretasi: INDY memiliki konfirmasi momentum yang sangat kuat dan fundamental membaik, tetapi harga telah mencapai bahkan sedikit melewati target taktis BNI Sekuritas. Oleh sebab itu, upside baru idealnya dinilai setelah harga mampu mempertahankan breakout Rp2.780–Rp2.820.

  • Bullish — 52%: bertahan di atas Rp2.780 dan menembus Rp2.820 membuka peluang Rp2.900–Rp3.000.
  • Base case — 28%: retest Rp2.720–Rp2.780 sebelum melanjutkan tren.
  • Bearish — 20%: false breakout dan kembali di bawah Rp2.680.

Invalidasi: penutupan di bawah Rp2.680.

Risiko: mengejar harga setelah kenaikan intraday, fluktuasi komoditas, leverage/pembiayaan ekspansi, serta perubahan risk appetite pada sektor energi.

3. ADMR — PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk

Harga terbaru terverifikasi: sekitar Rp1.705 pada 26 Agustus 2026, naik sekitar 1,49%, dengan rentang Rp1.685–Rp1.720.

Opportunity Score: 84/100 — Rank #3.

Estimasi modal 1 lot: Rp170.500.

Thesis: ADMR menarik karena harga telah bergerak ke atas area konsolidasi MA pendek sekaligus mendekati resistance Rp1.714–Rp1.725. Posisi RSI belum overbought sehingga ruang continuation masih tersedia.

Data teknikal 26 Agustus menunjukkan RSI 58,89, MACD +12,13 dan ADX 26. Harga Rp1.705 berada di atas MA20 Rp1.689, MA50 Rp1.661, MA100 Rp1.627 dan MA200 sekitar Rp1.571. Seluruh moving average yang ditampilkan memberikan sinyal beli.

  • Support: Rp1.680–Rp1.690.
  • Support mayor: Rp1.650–Rp1.665.
  • Resistance: Rp1.720–Rp1.725.
  • Target jika breakout: Rp1.740 kemudian Rp1.780–Rp1.820.

BNI Sekuritas pada 26 Agustus memasukkan ADMR sebagai speculative buy pada Rp1.675–Rp1.680, target Rp1.700–Rp1.740 dan cut loss di bawah Rp1.665.

Fundamental: laporan tahunan 2025 ADMR mencatat revenue US$973 juta, tumbuh 16% YoY, EBITDA US$367 juta, serta gross profit margin 40,6% dan EBITDA margin 37,7%.

Interpretasi: breakout ADMR secara teknikal lebih “bersih” daripada beberapa saham yang sudah overbought. Kekurangannya adalah sensitivitas yang tinggi terhadap harga batubara metalurgi dan sentimen komoditas global.

  • Bullish — 51%: breakout Rp1.725 membuka ruang Rp1.740–Rp1.800.
  • Base case — 31%: konsolidasi Rp1.675–Rp1.725.
  • Bearish — 18%: breakdown Rp1.665 membuka ruang koreksi menuju Rp1.620–Rp1.650.

Invalidasi: penutupan di bawah Rp1.650–Rp1.665.

4. BBNI — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk

Harga terverifikasi: Rp3.680. Data terakhir yang ditampilkan mencatat penurunan 1,34% dengan rentang Rp3.650–Rp3.740.

Opportunity Score: 82/100 — Rank #4.

Estimasi modal 1 lot: Rp368.000.

Thesis: BBNI merupakan kandidat breakout dengan kualitas fundamental terbaik dalam daftar. Saham sebelumnya telah mengonfirmasi breakout pola ascending triangle disertai spike volume dan golden cross MACD menurut analisa mingguan IPOT/IDX Channel. Setelah breakout, harga sedang mengalami pullback sehingga skenario yang lebih tepat adalah breakout-retest, bukan mengejar momentum.

Data teknikal 24 Agustus menunjukkan RSI sekitar 57,56, MACD +17,4, MA20 sekitar Rp3.646, MA50 Rp3.620 dan MA200 sekitar Rp3.575.

  • Support: Rp3.620–Rp3.650.
  • Support mayor: Rp3.550–Rp3.575.
  • Resistance: Rp3.740–Rp3.780.
  • Area target breakout: Rp3.850–Rp4.000.

Fundamental: per Juni 2026 BNI mencatat aset Rp1.411,3 triliun, laba bersih sekitar Rp10,9 triliun, kredit Rp952,8 triliun, ROE 13,4%, NPL gross 1,93% dan CAR 18,1%.

Flow: kelemahan BBNI saat ini adalah foreign flow. Pada perdagangan sebelum 26 Agustus, BBNI termasuk saham yang banyak dijual investor asing dalam kondisi total net sell sekitar Rp556 miliar.

Interpretasi: kualitas breakout sebelumnya valid, tetapi foreign selling meningkatkan risiko false continuation. Breakout baru akan lebih kuat apabila harga kembali menembus Rp3.740–Rp3.780 disertai foreign flow membaik.

  • Bullish — 48%: breakout Rp3.780 → Rp3.850–Rp4.000.
  • Base case — 35%: konsolidasi Rp3.600–Rp3.780.
  • Bearish — 17%: breakdown Rp3.600 → Rp3.550.

Invalidasi: penutupan di bawah Rp3.550.

5. ITMG — PT Indo Tambangraya Megah Tbk

Harga terbaru terverifikasi: sekitar Rp25.375 pada 26 Agustus 2026 ketika feed tertunda diperbarui; rentang hariannya Rp25.200–Rp25.550.

Opportunity Score: 80/100 — Rank #5.

Estimasi modal minimum 1 lot: sekitar Rp2.537.500.

Thesis: ITMG mempunyai struktur trend sangat rapi, tetapi berada tepat di bawah resistance sehingga cocok dikategorikan sebagai breakout watch.

Data teknikal 24 Agustus menunjukkan RSI 59,69, MACD +111,3 dan ADX 32,7. MA20 sekitar Rp25.283, MA50 Rp24.992 dan MA200 Rp24.597. Seluruh moving average utama saat itu memberikan sinyal beli.

Namun stochastic sekitar 98,8 dan Williams %R berada di wilayah overbought. Ini memperingatkan bahwa momentum kuat tidak identik dengan entry yang bebas risiko.

  • Support: Rp25.000–Rp25.200.
  • Support mayor: Rp24.600–Rp24.900.
  • Resistance breakout: Rp25.550–Rp25.600.
  • Target awal: Rp26.000–Rp26.500.

Volume beberapa sesi terakhir berkisar 1–2 juta saham. Pada 20 Agustus, harga naik 1,6% ke Rp25.400 dengan volume 1,54 juta; pada 24 Agustus naik lagi ke Rp25.400 dengan volume sekitar 1,22 juta saham.

Valuasi/sentimen: konsensus analis terbaru yang dihimpun Investing mencatat 8 buy, 9 hold dan 1 sell, dengan target 12 bulan rata-rata sekitar Rp27.372. JPMorgan pada 24 Agustus menurunkan rating menjadi hold dengan target Rp26.700. Target 12 bulan bukan target satu minggu, tetapi downgrade tersebut menjadi risiko sentimen yang perlu dicatat.

  • Bullish — 47%: breakout Rp25.600 → Rp26.000–Rp26.500.
  • Base case — 34%: sideways Rp25.000–Rp25.600.
  • Bearish — 19%: profit taking menuju Rp24.600–Rp24.900.

Invalidasi: penutupan di bawah Rp24.600.

Risiko utama: indikator momentum pendek sudah panas, harga batubara, serta potensi sell-on-strength di dekat resistance.

6. PGAS — PT Perusahaan Gas Negara Tbk

Harga terbaru terverifikasi: Rp1.535 pada 26 Agustus 2026, dengan rentang Rp1.520–Rp1.550 dan volume sekitar 21,51 juta saham pada pembaruan data.

Opportunity Score: 78/100 — Rank #6.

Estimasi modal 1 lot: Rp153.500.

Thesis: PGAS sedang membangun tekanan terhadap resistance Rp1.550–Rp1.560. Harga belum berhasil melakukan breakout bersih, sehingga kandidat ini lebih tepat disebut pre-breakout setup.

Data teknikal 24 Agustus menunjukkan RSI 63,46, MACD +7,39 dan ADX 46,76. Harga ketika itu Rp1.540 dan berada di atas MA20 Rp1.525, MA50 Rp1.507 serta MA200 sekitar Rp1.510.

Volume 24 Agustus mencapai 36,38 juta saham dibanding sekitar 18,96 juta pada 21 Agustus. Harga pada hari yang sama naik 1,32%. Kombinasi harga naik dan volume hampir dua kali lipat merupakan indikasi yang konstruktif.

  • Support: Rp1.500–Rp1.520.
  • Resistance: Rp1.550–Rp1.560.
  • Target breakout: Rp1.600–Rp1.650.

Interpretasi: risk/reward PGAS menjadi lebih menarik apabila harga menembus Rp1.560 dengan volume. Sebaliknya, membeli sebelum resistance ditembus berarti investor masih menanggung risiko harga kembali masuk ke area konsolidasi.

  • Bullish — 46%: breakout Rp1.560 → Rp1.600–Rp1.650.
  • Base case — 37%: bergerak Rp1.500–Rp1.560.
  • Bearish — 17%: breakdown Rp1.500 → Rp1.470–Rp1.480.

Invalidasi: penutupan di bawah Rp1.470.

Risiko: gagal breakout berulang, kebijakan harga/pasokan gas, sentimen energi, dan volatilitas IHSG.

7. PGEO — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk

Harga terakhir yang konsisten berhasil diverifikasi untuk setup: sekitar Rp1.065 pada 24 Agustus 2026. BNI Sekuritas pada 26 Agustus menetapkan skenario buy only if break Rp1.070, target Rp1.100–Rp1.120 dan cut loss di bawah Rp1.050.

Opportunity Score: 77/100 — Rank #7.

Estimasi modal 1 lot berdasarkan harga Rp1.065: Rp106.500.

Thesis: dibanding enam saham sebelumnya, PGEO belum memiliki breakout terkonfirmasi. Justru inilah daya tariknya: harga sedang berada sangat dekat level pemicu Rp1.070, sehingga invalidasi dapat dibuat relatif ketat.

Data teknikal 24 Agustus menunjukkan RSI sekitar 49, MACD -2,78, MA20 Rp1.065,5, MA50 Rp1.070,7 dan MA200 sekitar Rp1.037. Kondisi tersebut menunjukkan tren menengah masih bertahan, tetapi momentum pendek belum sepenuhnya bullish.

  • Support: Rp1.050–Rp1.060.
  • Trigger breakout: Rp1.070.
  • Resistance berikutnya: Rp1.100–Rp1.120.
  • Target ekstensi: sekitar Rp1.150 jika Rp1.120 dapat ditembus dengan volume.

Fundamental dan katalis: semester I 2026 PGEO mencatat pendapatan US$235,03 juta, tumbuh 14,73% YoY. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$79,62 juta, naik 15,47%.

Manajemen juga menargetkan laba bersih 2026 sekitar US$150–160 juta. Selain itu, tiga proyek geothermal masuk Green Book 2026 dan mendapatkan potensi dukungan pendanaan internasional hingga US$477,87 juta.

Interpretasi: PGEO justru memiliki salah satu fundamental-katalis paling menarik, tetapi konfirmasi teknikalnya paling lemah. Karena itu kandidat ini mendapat ranking lebih rendah sampai harga benar-benar menembus Rp1.070.

  • Bullish — 44%: breakout Rp1.070 → Rp1.100–Rp1.120 dan berpotensi Rp1.150.
  • Base case — 38%: konsolidasi Rp1.050–Rp1.070.
  • Bearish — 18%: breakdown Rp1.050 membawa harga ke sekitar Rp1.020–Rp1.030.

Invalidasi: penutupan di bawah Rp1.050.

Ranking Akhir 7 Saham Breakout

Rank Kode Harga Terakhir Tanggal Harga Opportunity Score Potensi/Setup Risiko Support Resistance/Area Target Katalis Utama
1 DSNG ± Rp1.470 26/08/2026 87 Continuation breakout + volume besar Profit taking setelah rally 1.440–1.455 1.500 → 1.540–1.610 Laba 1H26 +7,8%, sentimen CPO
2 INDY ± Rp2.800 26/08/2026 86 Breakout resistance 2.780 Harga sudah dekat/di atas target taktis awal 2.720–2.760 2.820 → 2.900–3.000 EBITDA 1H26 +43,8%, diversifikasi
3 ADMR ± Rp1.705 26/08/2026 84 Momentum di atas MA utama Sensitif komoditas 1.680–1.690 1.725 → 1.740–1.800 Momentum mineral/met coal
4 BBNI Rp3.680 Data terakhir terverifikasi 82 Breakout-retest ascending triangle Foreign net sell 3.620–3.650 3.780 → 3.850–4.000 Fundamental 1H26 solid
5 ITMG ± Rp25.375 26/08/2026 80 Trend kuat, dekat resistance Stochastic overbought 25.000–25.200 25.600 → 26.000–26.500 Momentum energi/dividen
6 PGAS Rp1.535 26/08/2026 78 Pre-breakout dengan volume membesar Resistance belum ditembus 1.500–1.520 1.560 → 1.600–1.650 Momentum sektor gas
7 PGEO ± Rp1.065 24/08/2026 77 Buy-if-break setup MACD belum bullish penuh 1.050 1.070 → 1.100–1.120 Laba +15,5%, ekspansi geothermal

Kesimpulan dan Saham Pilihan

  1. Top Pick #1: DSNG. DSNG memiliki kombinasi breakout, tren MA, MACD positif, volume yang meningkat tajam pada fase penguatan, fundamental semester I yang tetap tumbuh, serta katalis CPO. Level Rp1.500 menjadi konfirmasi penting. Namun entry setelah harga melonjak jauh di atas resistance akan memperburuk risk/reward.
  2. Kandidat paling defensif: BBNI. BBNI tidak memiliki momentum seagresif DSNG atau INDY, tetapi fundamental bank, likuiditas tinggi, posisi harga dekat support MA20/MA50 serta pola breakout-retest membuat karakter risikonya relatif lebih moderat. Kelemahannya adalah foreign flow yang masih negatif.
  3. Potensi tertinggi tetapi risiko terbesar: INDY. INDY telah bergerak dari area rekomendasi Rp2.680–Rp2.720 hingga sekitar Rp2.800 dan sempat menyentuh Rp2.820. Breakout tersebut kuat, tetapi semakin tinggi harga bergerak tanpa retest, semakin besar risiko false breakout atau profit taking.
  4. Kondisi IHSG: area 6.400–6.450 merupakan zona yang perlu dijaga, sedangkan 6.550–6.600 menjadi resistance utama. Selain IHSG, investor perlu memantau foreign flow, USD/IDR yang masih berada sekitar Rp17.700-an, yield obligasi AS, sentimen komoditas, serta arah bursa global. Volatilitas intraday 26 Agustus menunjukkan bahwa kondisi pasar belum sepenuhnya stabil.
  5. Prediksi dapat tidak berlaku jika IHSG breakdown di bawah support utama, terjadi foreign outflow besar, rupiah melemah tajam, katalis emiten berubah material, harga komoditas bergerak ekstrem, atau masing-masing saham menembus level invalidasinya dengan volume besar.

Cara Membaca Screening Ini

Untuk tema breakout, saham dengan Opportunity Score tertinggi tidak otomatis menjadi saham yang sebaiknya dibeli pada harga berapa pun. Jarak antara harga aktual dan resistance/support sangat menentukan risk/reward.

DSNG menarik apabila Rp1.500 berhasil dilewati dan dipertahankan. INDY sudah melakukan breakout sehingga retest justru dapat memberi informasi lebih baik tentang kekuatan buyer. ADMR perlu melewati Rp1.720–Rp1.725. BBNI perlu merebut kembali Rp3.740–Rp3.780. ITMG memerlukan breakout Rp25.550–Rp25.600. PGAS belum benar-benar keluar sebelum Rp1.560 ditembus, sedangkan PGEO merupakan setup paling jelas berbentuk buy if break Rp1.070.

Dengan demikian, ranking probabilistik satu minggu adalah DSNG > INDY > ADMR > BBNI > ITMG > PGAS > PGEO.

Catatan data: karena request dilakukan saat perdagangan 26 Agustus 2026 masih berjalan, beberapa harga 26 Agustus merupakan data pasar tertunda/intraday dan bukan harga penutupan final. Untuk indikator harian yang belum diperbarui penuh, analisa menggunakan data teknikal terakhir yang berhasil diverifikasi, terutama 24 Agustus 2026. Data tanggal dan status tersebut sengaja dibedakan agar data intraday tidak disajikan seolah-olah merupakan harga penutupan.

Catatan risiko: seluruh Opportunity Score, distribusi probabilitas bullish/base/bearish dan area target merupakan hasil analisa probabilistik, bukan jaminan keuntungan. Breakout dapat gagal sewaktu-waktu. Artikel ini bersifat informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham serta bukan nasihat investasi personal.