Jaringan Internet 5G di Indonesia

Belakangan ini, banyak orang bertanya-tanya kenapa jaringan 5G di Indonesia terasa “jalan di tempat”, sementara negara tetangga seperti Malaysia sudah lebih maju.

Dalam sebuah pernyataan, Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menjelaskan penyebab utamanya berikut ini:

  1. Cakupan 5G di Indonesia baru sekitar 10%, sedangkan Malaysia sudah mencapai 80%.
  2. Operator masih memakai frekuensi lama (seperti 1,8 GHz dan 2,3 GHz) yang belum ideal untuk 5G.
  3. Frekuensi yang lebih cocok (700 MHz dan 3,5 GHz) belum dilelang oleh pemerintah, sehingga operator belum bisa memperluas jaringan.

Pemerintah menargetkan 30% wilayah Indonesia sudah terjangkau 5G pada tahun 2030, tapi masih banyak PR yang harus diselesaikan.

Cari Berita Lengkap-nya? Klik Disini

Kenapa 5G Penting Tapi Sulit Diterapkan

Teknologi 5G seharusnya memberi internet yang lebih cepat, stabil, dan efisien. Namun, membangun jaringan 5G butuh investasi besar:

  1. Harus ada frekuensi khusus (spektrum) yang belum padat dipakai.
  2. Harus diperkuat dengan ribuan menara BTS baru dan jaringan fiber optik.
  3. Perangkat (HP dan modem) yang mendukung 5G juga masih terbilang mahal bagi banyak orang.

Jadi, walaupun teknologi 5G sudah siap, ekosistem pendukungnya di Indonesia belum sepenuhnya siap.

Tertinggal dari Negara Tetangga

Beberapa negara ASEAN seperti Malaysia dan Thailand sudah memiliki cakupan 5G nasional lebih dari 70%.

Indonesia yang wilayahnya luas dan geografisnya beragam (banyak daerah terpencil dan kepulauan) menghadapi tantangan tambahan dalam membangun infrastruktur.

Selain itu, biaya investasi tinggi dan harga layanan juga membuat operator lebih berhati-hati untuk ekspansi besar-besaran.

Tren dan Peluang di Balik Keterlambatan

Walau tertinggal, ada sisi positifnya juga. Karena Indonesia “datang belakangan”, negara ini bisa belajar dari kesalahan negara lain dan menerapkan strategi 5G yang lebih efisien:

  1. Memanfaatkan perangkat 5G murah yang kini mulai banyak di pasaran.
  2. Fokus ke wilayah padat penduduk dan kawasan industri dulu, baru menyebar ke daerah lain.
  3. Mendorong pengembangan layanan lokal berbasis 5G, seperti smart city, logistik digital, dan pendidikan jarak jauh.

Komentar & Opini

Kalau dilihat secara keseluruhan, masalah utama bukan pada teknologinya, tapi regulasi dan kesiapan ekosistemnya.
Pemerintah perlu mempercepat pelelangan frekuensi 5G dan memberi insentif kepada operator agar mau memperluas jaringan.
Di sisi lain, masyarakat juga butuh edukasi tentang manfaat 5G, supaya ketika jaringan siap, minat pengguna ikut meningkat.

Kalau langkah-langkah ini dijalankan dengan serius, Indonesia masih punya peluang besar untuk mengejar ketertinggalan dan bahkan melompat lebih jauh dalam transformasi digital.

Penutup

Keterlambatan 5G di Indonesia bukan berarti kegagalan, tapi tanda bahwa masih ada banyak hal yang harus dibenahi bersama dari pemerintah, operator, hingga masyarakat.

Jika semua pihak bergerak ke arah yang sama, maka dalam beberapa tahun ke depan, 5G bukan lagi sekadar wacana, tapi kenyataan yang bisa dirasakan seluruh Indonesia.

Bagaimana Menurut Anda?

Leave a Reply