Dalam beberapa tahun terakhir, fintech syariah berkembang cukup pesat di Indonesia. Namun, masih banyak pengguna yang belum benar-benar paham apa yang membedakan layanan ini dengan fintech biasa. Salah satu pembeda utamanya adalah akad fintech syariah, yang menjadi dasar setiap transaksi agar tetap sesuai prinsip Islam.
Tanpa akad yang jelas, transaksi bisa mengandung unsur riba, gharar, atau ketidakadilan. Karena itu, memahami akad fintech syariah sangat penting, terutama bagi kamu yang ingin menggunakan layanan keuangan digital dengan lebih aman dan halal.
Apa Itu Akad Fintech Syariah?
Akad fintech syariah adalah perjanjian atau kesepakatan antara pihak-pihak yang terlibat dalam layanan fintech syariah, seperti penyedia platform, pemberi dana, dan penerima dana, yang disusun sesuai prinsip syariah Islam.
Akad ini tidak sekadar formalitas, tapi menjadi fondasi hukum dan etika dalam transaksi. Semua hak, kewajiban, pembagian keuntungan, serta risiko dijelaskan di awal agar tidak merugikan salah satu pihak.
Mengapa Akad Sangat Penting dalam Fintech Syariah?
Berikut beberapa alasan kenapa akad fintech syariah tidak bisa diabaikan:
- Menjamin transaksi bebas riba
- Menciptakan transparansi antara pihak terkait
- Menghindari unsur spekulasi berlebihan
- Menjadi dasar pengawasan oleh Dewan Pengawas Syariah
- Memberi rasa aman dan kepercayaan bagi pengguna
Tanpa akad yang tepat, sebuah fintech tidak bisa disebut sebagai fintech syariah meskipun menggunakan label “syariah”.
Jenis-Jenis Akad dalam Fintech Syariah
Berikut adalah akad fintech syariah yang paling umum digunakan di Indonesia:
| Nama Akad | Penjelasan Singkat | Penerapan |
|---|---|---|
| Murabahah | Jual beli dengan margin keuntungan yang disepakati | Pembiayaan barang konsumtif & produktif |
| Mudharabah | Bagi hasil antara pemilik modal dan pengelola usaha | Pendanaan UMKM |
| Musyarakah | Kerja sama modal antara dua pihak atau lebih | Proyek usaha bersama |
| Ijarah | Sewa atas manfaat suatu barang atau jasa | Pembiayaan aset atau jasa |
| Wakalah | Pemberian kuasa kepada pihak lain | Pengelolaan dana & layanan pembayaran |
Contoh Penerapan Akad Fintech Syariah
Misalnya, seorang pelaku UMKM mengajukan pembiayaan lewat platform fintech syariah. Platform tersebut menggunakan akad mudharabah, di mana investor menyediakan modal dan UMKM mengelola usaha. Keuntungan dibagi sesuai rasio yang disepakati sejak awal, bukan berdasarkan bunga.
Contoh lain, pembelian barang usaha menggunakan akad murabahah, di mana harga pokok dan margin keuntungan dijelaskan secara transparan di awal.
Akad Fintech Syariah dan Peran OJK
Di Indonesia, fintech syariah tidak hanya diawasi oleh OJK, tetapi juga oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). DPS memastikan bahwa akad fintech syariah yang digunakan sesuai dengan fatwa DSN-MUI dan tidak melenceng dari prinsip Islam.
Hal ini menjadi nilai tambah dibandingkan fintech konvensional, karena ada lapisan pengawasan tambahan.
Tips Memastikan Akad Fintech Syariah yang Aman
Sebelum menggunakan layanan fintech syariah, perhatikan hal berikut:
- Baca jenis akad yang digunakan di aplikasi atau website
- Pastikan akad dijelaskan secara terbuka dan mudah dipahami
- Cek legalitas fintech di OJK
- Pastikan ada Dewan Pengawas Syariah resmi
- Hindari platform yang tidak transparan soal pembagian keuntungan
Kesimpulan
Akad fintech syariah bukan sekadar istilah, tapi menjadi inti dari seluruh transaksi keuangan digital berbasis syariah. Dengan memahami jenis dan fungsi akad, kamu bisa menggunakan fintech syariah dengan lebih percaya diri, aman, dan sesuai prinsip Islam.