Bila Esok Ibu Tiada menggambarkan kehidupan sebuah keluarga sederhana: ibu bernama Rahmi, dan keempat anaknya yaitu Ranika (sulung), Rangga, Rania, dan Hening. Sepeninggal sang suami Haryo, Rahmi harus berjalan sendirian sebagai tulang punggung rumah tangga.
Rahmi selama bertahun-tahun mengorbankan keinginan pribadi demi menjaga anak-anaknya. Namun seiring waktu, anak-anak mulai sibuk dengan hidup masing-masing, dan jarak antara mereka pun terasa. Ranika, misalnya, menjadi tulang punggung keluarga namun sikapnya mulai berubah; Rangga memilih jalan hidup yang kurang matang; Rania dan Hening pun menghadapi persoalan yang berbeda.
Informasi Film:
.
Judul: Bila Esok Ibu Tiada (2024)
Sutradara: Rudy Soedjarwo
Produksi: Leo Pictures
Pemeran utama:
👉 Christine Hakim sebagai Rahmi (ibu)
👉 Adinia Wirasti sebagai Ranika
👉 Fedi Nuril sebagai Rangga
👉 Amanda Manopo sebagai Rania
👉 Yasmin Napper sebagai Hening
.
Durasi: ± 1 jam 44 menit
Konflik kecil yang dahulu bisa diselesaikan dengan canda dan tawa, kini membesar menjadi gesekan yang memecah keharmonisan.
Di masa Rahmi melemah, anak-anaknya dihadapkan pada kenyataan pahit: bagaimana jika esok sang ibu tiada? Apakah mereka bisa bersatu kembali, dan menghargai kehadiran yang selama ini mereka anggap “selalu ada”? Film ini mengajak penonton untuk merenung tentang arti kehadiran ibu dalam keluarganya.
Pandangan Saya terhadap Cerita
Cerita Bila Esok Ibu Tiada terasa sangat relevan dengan banyak keluarga modern di Indonesia — saat anggota keluarga semakin sibuk, komunikasi menipis, dan kehadiran ibu sering kali dianggap hal “biasa” hingga terlambat disadari nilainya.
Kekuatan utama film ini terletak pada tema universalnya: kasih ibu, pengorbanan, rasa bersalah, dan kerinduan akan keharmonisan yang dulu. Karakter Rahmi sebagai ibu yang setia dan tangguh sangat menyentuh, membuat penonton “bersuara dalam hati”: “Apakah kita cukup hadir untuk ibu kita?”
Namun, dari sisi cerita, menurut beberapa resensi, ada kelemahan seperti alur yang kadang terlalu bisa ditebak atau gaya dramatis yang agak terasa berat bagi sebagian penonton.
Secara pribadi, saya menilai film ini sangat cocok untuk ditonton oleh keluarga. Bukan sekadar hiburan, tetapi juga pengingat: jangan tunggu esok untuk mengungkapkan cinta dan memperbaiki hubungan. Kehadiran ibu yang sederhana ternyata bisa memiliki dampak besar jika kehilangan itu tiba-tiba.