Melihat Berbagai Contoh Modus Penipuan Lowongan Kerja

Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, tawaran kerja sering datang seperti angin segar. Namun sayangnya, tidak sedikit peluang tersebut hanyalah jebakan. Modus loker palsu terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat digital. Banyak korban tertipu bukan karena ceroboh, melainkan karena pelaku sangat lihai memainkan emosi dan harapan pencari kerja.

Agar tidak terjebak, penting bagi pencari kerja untuk memahami contoh nyata modus loker palsu yang sering terjadi. Dengan mengenali pola dan cara kerjanya, kita bisa lebih waspada sebelum terlambat.

  1. Lowongan kerja via WhatsApp broadcast

    Salah satu modus yang paling sering ditemui adalah lowongan kerja via WhatsApp broadcast. Pesan biasanya disebarkan ke banyak nomor secara acak atau melalui grup. Isinya singkat, menarik, dan menjanjikan gaji besar. Contoh pesan yang sering beredar:

    “INFO LOKER TERBARU! Dibutuhkan admin online. Gaji 300–500 ribu/hari. Tanpa pengalaman. Minat? Chat HRD sekarang.”

    Pesan seperti ini terlihat sederhana, tetapi sangat efektif. Korban yang tertarik akan diarahkan ke chat pribadi, lalu diminta mengisi data atau membayar biaya tertentu. Padahal, perusahaan resmi hampir tidak pernah merekrut melalui broadcast WhatsApp.

  2. Mengatasnamakan perusahaan besar / BUMN

    Modus berikutnya adalah mengatasnamakan perusahaan besar atau BUMN. Pelaku menggunakan nama perusahaan ternama agar terlihat kredibel. Logo, kop surat, hingga surat undangan dibuat menyerupai aslinya.

    Banyak korban percaya karena merasa “tidak mungkin perusahaan besar menipu”. Faktanya, justru nama besar sering dipakai dalam modus loker palsu karena tingkat kepercayaan publik yang tinggi.

    Biasanya, korban diminta mengikuti seleksi awal secara online, lalu dinyatakan lolos. Setelah itu, muncul permintaan biaya administrasi, medical check-up, atau transportasi. Padahal, rekrutmen resmi BUMN tidak pernah memungut biaya apa pun.

  3. Undangan interview online palsu

    Undangan interview online palsu juga semakin marak sejak era kerja jarak jauh. Korban menerima email atau pesan berisi undangan wawancara via Zoom atau Google Meet. Jadwal, nama pewawancara, dan posisi kerja terlihat profesional.

    Namun, saat “interview”, korban justru diminta mengisi formulir mencurigakan atau diarahkan untuk membayar biaya tertentu agar bisa lanjut ke tahap berikutnya.

    Ini adalah salah satu modus loker palsu yang paling sulit dikenali karena tampak modern dan formal.

  4. Penipuan berkedok kerja online / kerja dari rumah

    Tak kalah berbahaya adalah penipuan berkedok kerja online atau kerja dari rumah. Modus ini biasanya menawarkan pekerjaan sederhana seperti like produk, input data, atau review aplikasi.

    Awalnya korban benar-benar dibayar kecil untuk membangun kepercayaan. Setelah itu, korban diminta “deposit” agar bisa mendapatkan tugas dengan bayaran lebih besar. Di sinilah penipuan terjadi dimana uang disetor, tugas menghilang, kontak diblokir.

    Berikut contoh chat WhatsApp yang sering dilaporkan korban:

    > HRD: “Selamat, Anda lolos seleksi admin online. Untuk aktivasi akun kerja, silakan transfer biaya training Rp250.000.”

    Korban: “Apakah ada kontrak resmi?”

    HRD: “Kontrak dikirim setelah pembayaran. Kuota terbatas hari ini.”

    Teknik ini memanfaatkan rasa takut kehilangan kesempatan. Tekanan waktu adalah ciri khas modus loker palsu.

Penutup

Modus loker palsu terus berubah, tetapi tujuannya tetap sama: memanfaatkan harapan pencari kerja. Dengan memahami contoh-contoh nyata seperti broadcast WhatsApp, pencatutan nama perusahaan besar, interview online palsu, dan kerja online fiktif, kita bisa lebih siap melindungi diri.

Jangan pernah terburu-buru menerima tawaran kerja. Selalu verifikasi, cek sumber resmi, dan ingat satu prinsip penting: pekerjaan yang sah tidak pernah meminta uang di awal. Waspada adalah kunci agar peluang tidak berubah menjadi kerugian.

Leave a Reply