Susah Tidur Gen-Z

Menurut laporan dari Detikcom tanggal 13 September 2025, banyak anggota Generasi Z yang kini menghadapi kesulitan tidur malam, mereka baru bisa memejamkan mata di dini hari.

Praktisi tidur Andreas Arman Prasadja menyebut bahwa meski bukan hanya sekadar stres atau pekerjaan, fenomena ini banyak disebabkan oleh gangguan ritme sirkadian (“delayed sleep phase”) yang berarti tidur memang bisa namun jamnya bergeser hingga jam 3 – 4 pagi.

Hal ini menyebabkan risiko “social jet-lag”, terutama saat Generasi Z harus bangun pagi untuk aktivitas sosial atau bekerja namun internal clock-nya belum “siap”.

Cari Berita Lengkap-nya? Klik Disini

Ulasan dan Opini

Fenomena ini sangat menarik karena menunjukkan bagaimana gaya hidup digital dan tekanan sosial yang melekat pada Generasi Z menghasilkan dampak nyata pada pola tidur mereka. Dari sisi saya, ada dua hal yang patut digaris-bawahi:

1. Teknologi dan gaya hidup

Kebiasaan menggunakan gadget menjelang tidur, paparan cahaya biru (blue-light) dari layar, serta dorongan “harus aktif terus” tampaknya menjadi pemicu penting. Seperti disebutkan: “Gen Z menggunakan teknologi jauh lebih sering sebelum tidur, dimana mereka tidur sambil memegang ponsel dan pada dasarnya tidak bisa tidur.”

Dari perspektif kesehatan digital, ini memperingatkan bahwa interaksi digital tak hanya soal produktivitas atau hiburan, tapi juga soal dampak fisiologis dasar seperti kualitas tidur.

2. Konsekuensi jangka panjang

Jika pola tidur menyimpang terus-menerus, maka tidak sekadar lelah di siang hari, tetapi bisa memengaruhi konsentrasi, mood, kinerja akademik/kerja, bahkan kesehatan mental dan fisik.

Artikel Populix mencatat bahwa “lebih dari sepertiga Gen Z (35 %) mengaku mengalami insomnia” dan bahwa gangguan tidur terkait erat dengan stres, kecemasan, dan kualitas hidup yang memburuk.

Dari opini saya, ini adalah “alarm” bagi institusi pendidikan, orang tua, dan generasi itu sendiri untuk memperlakukan tidur sebagai bagian penting dari self-care, bukan hanya tambahan.

Secara op-ini, saya percaya bahwa solusi harus terdiri dari dua arah: perubahan individual (misalnya membatasi screen-time sebelum tidur, menciptakan rutinitas tidur yang konsisten) dan perubahan struktural (misalnya institusi pendidikan atau perusahaan mulai mendukung fleksibilitas atau perhatian terhadap kualitas tidur karyawannya). Jika hanya individu yang dipersalahkan tanpa perubahan mendasar, maka beban tetap akan besar.

Bagaimana Menurut Anda?

Leave a Reply