Dokter di Indonesia
Bertepatan dengan peringatan Hari Dokter Nasional pada 24 Oktober 2025, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kembali menyerukan pentingnya pemerataan sebaran dokter ke seluruh wilayah Indonesia.
Menurut Ketua Umum IDI, Dr. Slamet Budiarto, hingga kini masih terjadi ketimpangan yang signifikan. Dimana sebagian besar dokter terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara daerah terpencil masih kekurangan tenaga medis.
Cari Berita Lengkap-nya? Klik Disini →
IDI menyebut bahwa dari lulusan dokter baru, pemerintah hanya menyerap sekitar 20 % untuk penempatan di wilayah di luar kota besar, sedangkan 80 % lainnya memilih untuk berada di kota besar.
Untuk mengatasi masalah ini, IDI meminta agar alokasi anggaran kesehatan, khususnya untuk SDM dokter, ditingkatkan, dan insentif agar dokter bersedia bertugas di daerah harus dipertimbangkan secara serius.
Ulasan & Opini
Isu pemerataan dokter yang diangkat IDI bukanlah hal baru; ada beberapa tren yang mendasari mengapa topik ini terus muncul dan menjadi perhatian publik:
1. Konsentrasi tenaga medis di wilayah perkotaan
Banyak dokter, termasuk spesialis, memilih untuk praktek atau tinggal di kota besar karena faktor fasilitas, infrastruktur, maupun insentif yang lebih menarik dibandingkan daerah terpencil. Hal ini menyebabkan wilayah rural atau terpencil tertinggal dalam akses pelayanan kesehatan.
2. Kebutuhan anggaran dan insentif SDM kesehatan meningkat
Pemerintah dituntut untuk mengalokasikan lebih banyak anggaran ke sektor SDM, bukan hanya infrastruktur fisik. Insentif penugasan ke daerah, fasilitas memadai, dan support profesional menjadi kunci agar dokter mau bertugas di lokasi yang kurang dilayani.
3. Perubahan demografi dan kebutuhan kesehatan masyarakat
Dengan pertumbuhan populasi dan meningkatnya kesadaran kesehatan, kebutuhan akan dokter umum dan spesialis di seluruh wilayah semakin besar. Pemerataan dokter menjadi bagian dari strategi meningkatkan derajat kesehatan bangsa.
4. Keseimbangan antara kuantitas dan kualitas layanan
Tidak cukup hanya menambah jumlah dokter, tetapi distribusinya harus tepat agar setiap wilayah mendapatkan layanan yang memadai. Tren ini menunjukkan bahwa aspek “akses” dan “kesetaraan” telah menjadi fokus utama dalam sistem kesehatan nasional.
5. Kolaborasi antara pemerintah, profesi, dan masyarakat
Pemerataan tenaga kesehatan bukan hanya tugas pemerintah semata, tetapi juga melibatkan organisasi profesi seperti IDI, komunitas lokal, dan sektor swasta. Tren kemitraan ini semakin diperkuat dalam sejumlah kebijakan dan program terkini.
Penutup
Isu pemerataan dokter yang diangkat oleh IDI mencerminkan tantangan mendasar dalam sistem kesehatan Indonesia: bagaimana memastikan semua warga, baik di kota besar maupun di daerah terpencil, memiliki akses yang adil terhadap tenaga medis berkualitas.
Upaya ini menuntut strategi jangka panjang yang meliputi peningkatan insentif, alokasi anggaran yang memadai, serta komitmen semua pihak, dari pemerintah hingga komunitas lokal. Jika langkah-langkah tersebut dapat dijalankan dengan konsisten, maka bukan hanya angka dokter per kapita yang meningkat, tetapi kualitas kesehatan nasional akan terdongkrak secara signifikan.
Bagaimana Menurut Anda?