Industri kecantikan lokal makin bersinar di Indonesia karena kombinasi perubahan gaya hidup, percepatan digitalisasi, dan preferensi konsumen yang semakin mengutamakan produk dalam negeri.
Dari sekadar pemain pendukung hingga kini menjadi kekuatan yang diperhitungkan, brand kecantikan lokal menunjukkan bahwa mereka bukan hanya mengikuti tren global, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan pasar Indonesia secara spesifik.
Cari Berita Lengkap-nya? Klik Disini →
Data & Fakta Tren
Menurut rilis Kementerian Perindustrian (Kemenperin), jumlah pelaku usaha di sektor kosmetik lokal naik dari 726 pelaku pada 2020 menjadi 1.292 pada 2024, naik lebih dari 77 %.
Adapun proyeksi pasar kosmetik nasional diperkirakan mencapai USD 9,7 miliar pada tahun 2025 dengan pertumbuhan tahunan sekitar 4,33 %.
Selain itu ada juga laporan dari Macromill SEA yang menyebutkan bahwa produk kosmetik dan skincare buatan Indonesia menempati peringkat teratas dalam popularitas di segmen pria dan wanita dalam riset mereka.
Bahkan statistik dari platform e-commerce menunjukkan bahwa di Kuartal I 2025, brand lokal seperti Skintific (4,10 %), Wardah (2,97 %), dan Glad2Glow (2,51 %) berada di peringkat teratas penjualan skincare di platform Shopee.
Jadi penetrasi pasar kecantikan di Indonesia pada tahun 2025 yang dilaporkan mencapai 80 % benar-benar terjadi.
Penyebab Munculnya Tren
- Kesadaran self-care dan gaya hidup: Konsumen Indonesia kini melihat perawatan diri sebagai kebutuhan, bukan sekadar pelengkap. Hal ini mendorong permintaan terhadap produk lokal yang relevan dengan kondisi kulit dan iklim Indonesia.
- Digital dan e-commerce: Platform online serta media sosial mempercepat adopsi produk kecantikan lokal, memungkinkan brand-baru untuk cepat dikenal dan diterima luas. Laporan StrategyHelix menyebut media sosial sebagai kanal utama dalam membentuk preferensi kecantikan.
- Brand lokal yang adaptif: Brand lokal mampu memahami perilaku konsumen Indonesia—mulai dari formula yang cocok untuk kulit tropis, penggunaan bahan alami/halal, hingga harga yang kompetitif.
- Regulasi dan dukungan pemerintah: Pemerintah mendorong pengembangan industri kosmetik lokal sebagai sektor strategis, melalui regulasi, bantuan maklon, dan akses pasar.
Dampak terhadap Industri dan Perilaku Konsumen:
1. Industri kecantikan nasional semakin kompetitif
Brand-internasional yang dulu mendominasi mulai tersaingi oleh brand lokal yang lebih nimble dan relevan.
2. Konsumen mendapatkan lebih banyak pilihan
Produk lokal yang berkualitas dan harga bersaing memberikan alternatif yang sebelumnya terbatas.
3. Penguatan identitas lokal
Konsumen makin bangga memakai brand Indonesia yang memahami kebutuhan mereka, bukan hanya merek impor.
4. Ekspor & ekspansi: Dengan daya saing yang meningkat, brand lokal memiliki peluang untuk merambah pasar global. Sebagaimana disebut dalam rilis Kemenperin, industri kosmetik nasional siap ekspansi ke luar negeri.
Prediksi Jangka Pendek & Panjang:
Untuk jangka pendek (1-2 tahun), pertumbuhan brand lokal akan terus meningkat, terutama di segmen skincare, body care, dan “clean beauty”. E-commerce dan pemasaran lewat influencer akan semakin dominan.
Adapun untuk jangka panjang (5-10 tahun), industri kecantikan lokal bisa menjadi salah satu eksportir utama kawasan Asia Tenggara jika terus inovatif. Namun, akan ada tantangan seperti saturasi pasar, kebutuhan inovasi, regulasi lebih ketat, dan tekanan biaya produksi.
Kesimpulan
Fakta-data menunjukkan bahwa industri kecantikan lokal makin bersinar di Indonesia dari peningkatan pelaku usaha, tingginya penetrasi pasar, hingga dominasi brand lokal dalam e-commerce. Tren ini bukan sekadar gelombang sementara, melainkan perubahan struktural dalam preferensi konsumen, kanal distribusi, dan strategi brand.
Bagi pelaku bisnis kecantikan, peluang besar terbuka: fokus pada diferensiasi produk, storytelling lokal, dan omnichannel marketing dapat menjadi kunci sukses. Untuk konsumen, era pilihan semakin beragam dan lokal kini bukan hanya alternatif, melainkan pilihan utama.