Duo viral era 2010-an, Sinta & Jojo, kembali mencuri perhatian publik lewat unggahan video di media sosial yang menunjukkan mereka menirukan gaya riasan ala tren kosmetik dari Douyin (versi Tiongkok dari TikTok).

Mereka memperlihatkan transformasi makeup yang dramatis: kulit tampak cerah bercahaya, mata diperbesar melalui riasan dan efek filter, serta bibir ombre halus, semua khas gaya “makeup Douyin”.

Cari Berita Lengkap-nya? Klik Disini

Unggahan ini langsung memicu respons besar dari netizen, banyak yang terkejut karena wajah Sinta & Jojo disebut “awet muda”, bahkan ada yang mengatakan seperti vampir karena tampak tak menua.

Ulasan & Opini

Fenomena yang terjadi di sini menarik beberapa poin penting:

1. Adaptasi Tren Global ke Lokal

Gaya makeup Douyin memang berasal dari Tiongkok dan belakangan melebar ke banyak negara karena pengaruh media sosial. Sinta & Jojo yang “turun gunung” kembali lewat tren ini menunjukkan bahwa kreator atau figur publik Indonesia dapat memanfaatkan tren global dengan melakukan adaptasi lokal yang punya daya tarik nostalgia dan baru sekaligus.

2. Kekuatan Visual & Nostalgia

Unggahan ini tidak sekadar kosmetik – ada unsur nostalgia kuat bagi publik Indonesia yang dulu “kenal” Sinta & Jojo dari video viral mereka. Fenomena ini memadukan dua hal: transformasi visual (makeup) dan pengembalian figur yang dulu populer. Efeknya: perhatian publik muncul karena “kejutan” plus kenangan masa lalu.

3. Isu Standar Kecantikan & Tekanan Sosial

Meski menarik, ada sisi yang patut diperhatikan: ketika wajah dua figur publik disebut “awet muda”, muncul implikasi bahwa tampil muda/sempurna adalah sesuatu yang harus dicapai. Hal ini bisa memberi tekanan terutama bagi pengguna media sosial muda.

Selain itu, tren makeup Douyin dengan kulit cerah, mata besar, bibir ombre mungkin tidak cocok atau realistis untuk semua jenis kulit atau wajah di Indonesia. Jadi, penting untuk tetap kritis terhadap standar kecantikan yang muncul.

Rekomendasi Untuk Kreator/Brand & Konsumen

Bagi kreator/brand kecantikan, memanfaatkan tren seperti ini bisa sangat efektif dalam menarik perhatian. Tapi, akan lebih baik jika disertai pesan inklusivitas seperti menampilkan beragam tipe kulit, serta menekankan bahwa makeup adalah ekspresi, bukan keharusan.

Sementara bagi konsumen, kamu ngikutin tren boleh saja, tapi jangan biarkan tren itu mengubah persepsi diri Anda secara negatif. Makeup untuk ekspresi diri, bukan sebagai “standar wajib”.

Adapun buat orang tua atau pendidik, pemahaman terhadap konten viral kecantikan penting agar remaja tidak mudah terseret ke ekspektasi yang tidak realistis.

Bagaimana Menurut Anda?

Leave a Reply