Lagu “Tegar”, yang dipopulerkan oleh Rossa dan diciptakan oleh Melly Goeslaw, masuk dalam daftar nominasi kategori Pencipta Lagu Tema Terbaik pada Festival Film Indonesia 2025 (FFI 2025) karena menjadi soundtrack untuk film Panggil Aku Ayah.
Lagu yang dirilis lebih dari dua dekade lalu kini mendapatkan penempatan baru dalam konteks film, menunjukkan fleksibilitas karya musik tersebut.
Cari Berita Lengkap-nya? Klik Disini →
Ulasan & Opini
Menurut saya, nominasi lagu “Tegar” untuk FFI 2025 merupakan pengakuan yang tepat bagi sebuah karya musik yang telah menjadi bagian dari ingatan banyak orang dan kini diberi “nafas baru” sebagai soundtrack film. Ada beberapa poin menarik:
Nilai sentimental dan rekaman sejarah: “Tegar” sejak dirilis telah menjadi salah satu lagu ikonik bagi Rossa dan bagi industri pop Indonesia. Dengan munculnya kembali lagu ini sebagai bagian dari film, maka pengaruhnya pun melebar—tidak hanya sebagai lagu cinta romantis saja, tapi juga sebagai elemen naratif dalam film “Panggil Aku Ayah”.
Sinergi musik dan film: Memilih lagu yang sudah dikenal luas sebagai soundtrack bisa memiliki keuntungan besar dari sisi penerimaan publik, sebab sudah ada “hook” emosional. Namun di sisi lain, tantangannya adalah memastikan lagu tersebut relevan dengan narasi film, bukan hanya “dipakai karena populer saja”. Dalam kasus ini, karena liriknya juga dikatakan fleksibel untuk konteks ayah-anak atau romantis, maka sepertinya penempatannya cukup tepat.
Kompetisi dan ruang baru: Fakta bahwa lagu ini bersaing dengan lagu-tema film lain di FFI menandakan bahwa kategori pencipta lagu tema di film Indonesia semakin kompetitif dan kreatif. Hal ini bagus bagi industri karena mendorong kualitas soundtrack, bukan hanya musik film sebagai aksesoris.
Catatan kecil: Meski demikian, ada risiko bahwa memakai lagu lama yang populer bisa dianggap “amenitis” atau terlalu mengandalkan nostalgia, bukan menciptakan sesuatu yang benar-baru dan tepat konteks. Jadi penting bagi pembuat film dan pencipta lagu untuk memastikan adaptasi dan penempatan lagunya memang “pas” agar tidak terasa dipaksakan.
Kesimpulannya, saya menilai langkah ini sebagai kemenangan bagi Rossa dan Melly Goeslaw—karena menunjukkan bahwa karya lama masih relevan dan bisa dihidupkan kembali dalam format baru. Juga menjadi contoh bagus untuk industri film-musik di Indonesia tentang bagaimana memanfaatkan katalog musik nasional untuk memperkuat film.
Bagaimana Menurut Anda?