Zoya adalah mahasiswa kedokteran yang cerdas dan religius. Dua kakaknya sempat mengalami kegagalan dalam hubungan, dan pengalaman itu membuat Zoya enggan terbuka pada cinta, dia memegang teguh prinsip “menikah tanpa pacaran”.

Ketika ia bertemu Faris, mahasiswa teknik kelautan yang populer dan sekaligus vokalis band kampus, bukan cinta yang langsung muncul, melainkan keberatan Zoya terhadap kebisingan motor Faris saat berangkat ke masjid kampus. Sikapnya penuh pertahanan.

Di tengah suasana kampus, hadir pula Cleopatra, sosok mahasiswi sosialita yang memendam rasa suka pada Faris. Segitiga cinta mulai terbentuk: Faris di antara dua sosok berbeda, Zoya dan Cleopatra.

Judul: Tak Kenal Maka Taaruf (2025)
Sutradara: Toma Margens
Adaptasi dari novel: karya Mim Yudiarto (judul sama)
Genre: Romansa + Religi
Pemeran utama:
→ Saskia Chadwick sebagai Zoya
→ Fadi Alaydrus sebagai Faris
→ Dinda Mahira sebagai Cleopatra/Cleo

Seiring waktu, Zoya perlahan bergulat dengan ketakutannya, yang bisa dikategorikan sebagai philophobia (takut jatuh cinta). Ia harus membuka hati dan memilih antara tetap di zona nyaman atau memberi kesempatan cinta yang bermakna. Film ini menyoroti bahwa cinta bukan sekadar rasa, tetapi juga pilihan, kesucian dan keikhlasan.

Pandangan Saya Mengenai Cerita Film Ini

Film Tak Kenal Maka Taaruf menghadirkan pendekatan yang cukup segar dalam genre romantis Indonesia, bukan hanya soal kisah “jatuh cinta” biasa, tetapi lebih tentang proses pengenalan diri dan nilai-nilai dalam sebuah hubungan.
Beberapa poin yang menurut saya menarik:

1. Nilai agama dan moral yang kuat
Zoya dengan prinsipnya “menikah tanpa pacaran” menunjukkan bahwa film ini mencoba memberi alternatif narasi terhadap hubungan anak muda yang sering dipresentasikan secara bebas dalam media. Ini menjadi ruang refleksi untuk penonton muda yang mungkin mencari makna berbeda dari cinta.

2. Trauma sebagai latar karakter utama
Menjadikan kegagalan cinta di keluarga Zoya sebagai latar  dan ketakutan Zoya sendiri, adalah langkah yang membuat karakternya terasa lebih manusiawi, bukan sekadar tokoh romantis ideal. Ini memberi kedalaman.

3. Segitiga cinta dengan karakter berbeda
Dengan Faris sebagai sosok populer, Zoya sebagai sosok tertutup, dan Cleopatra sebagai sosok terbuka mengagumi Faris. Film ini menyediakan dinamika yang bisa memunculkan konflik dan pilihan yang tidak mudah. Pemirsa mungkin akan memahami mengapa Zoya memilih atau tidak memilih Faris.

4. Pesan tentang keikhlasan dan kesucian
Film ini menekankan bahwa “cinta yang baik datang dengan cara yang baik”. Bukan hanya bagaimana memulai, tapi bagaimana menjaga. Hal ini bisa menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa relasi bukan sekadar romantisme tetapi juga komitmen.

Namun, ada pula tantangan-nya yaitu untuk menarik penonton luas, terutama yang hanya mencari hiburan ringan, tema yang terlalu “berat” bisa terasa seperti ceramah. Maka keberhasilan film ini akan bergantung pada seberapa baik eksekusi sutradara dan akting para pemerannya dalam menjaga keseimbangan antara hiburan dan pesan moral.

Secara keseluruhan saya melihat film ini sebagai kesempatan bagus bagi perfilman lokal untuk mengangkat tema yang bermakna tanpa kehilangan unsur romansa yang disukai penonton. Jika Anda mencari film yang romantis tetapi juga memberi bahan pemikiran, maka film ini layak dipertimbangkan.

Leave a Reply