Beberapa waktu belakangan, jagat media sosial di Indonesia dan dunia tengah dibanjiri unggahan video dan foto di mana para pengguna (terutama Gen Z) mencoba tampilan gigi hitam pekat, sebuah tren yang dikenal sebagai teeth blackening.

Tren ini tampak “berlawanan” dengan arus utama estetika modern yaitu gigi putih bersih dan rapi, dan mulai ramai diperbincangkan sejak akhir tahun 2024 hingga tahun 2025. Salah satu pemicunya adalah munculnya gaya gigi hitam dalam video TikTok para influencer dan selebgram keturunan Asia.

Cari Berita Lengkap-nya? Klik Disini

Situasi inilah yang memicu reaksi publik di Indonesia: mengapa tren yang sempat dianggap kuno kini muncul kembali? Apakah sekadar gaya atau mengandung makna lebih? Artikel ini akan membahas inti berita, reaksi publik, serta analisis atas fenomena tersebut.

Fakta Utama

Tren teeth blackening mencuat kembali di kalangan Gen Z melalui media sosial seperti TikTok, di mana pengguna mencoba tampilan gigi hitam sebagai bagian dari gaya estetik atau subkultur tertentu.

Ternyata, tradisi menghitamkan gigi bukanlah hal baru: di Jepang dikenal sebagai Ohaguro (gigi hitam) yang populer hingga akhir abad ke-19, dan di Vietnam serta Asia Tenggara praktik serupa juga pernah ada.

Menurut artikel di Wolipop (bagian dari Detik Network), tren ini jadi viral kembali karena kombinasi faktor: munculnya gaya mode subkultur (goth, punk), influencer yang tampil dengan gigi hitam, dan media sosial yang mempercepat penyebaran.

Dalam artikel IDN Times disebutkan bahwa tren ini tidak hanya dianggap sebagai mode belaka, tetapi juga sebagai bentuk reinterpretasi identitas budaya dan penolakan terhadap standar kecantikan Barat (yang menekankan gigi putih).

Reaksi Publik & Media Sosial

Di Indonesia, reaksi terhadap tren ini cukup beragam dan menarik. Berikut rangkuman dari berbagai suara publik:

Respons positif / apresiatif

Beberapa pengguna di TikTok dan Instagram menyambut tren ini sebagai “gaya baru yang berani” dan alternatif dari standar kecantikan umum.

Dan ada yang melihatnya sebagai “kembalinya budaya lama” yang bisa diapresiasi ulang. Misalnya artikel IDN Times menyebut bahwa tren ini “melunturkan standar kecantikan Barat yang tidak realistis”.

Komentar netizen yang menganggap “uniqueness” wajar:

“Seru juga ya, gigi hitam jadi statement mode — nggak selalu harus putih kinclong.” (komentar pengguna TikTok)
“Kalau dulu nenek-nenek yang pakai tradisi, sekarang Gen Z reinterpretasi dengan fun.”

Respons kritis / kontra

Banyak yang merasa tampilan gigi hitam ini “aneh” atau “menyeramkan” karena bertolak belakang dengan pola estetika umum di Indonesia yang sangat menekankan gigi putih bersih.

Tapi ada pula yang mempertanyakan keamanan atau konsekuensi kesehatan dari praktik ini (meskipun banyak yang hanya make-up/efek sementara).

Seorang komentator menyebutkan seperti ini:

“Gigi hitam? Bukannya yang putih itu sehat? Kok malah tren balik ke hitam?”

Dalam media sosial muncul perdebatan mengenai apakah tren ini sekadar “fashion show” atau justru mengangkat kembali ritual tradisional yang punya makna budaya mendalam.

Sorotan Perbedaan Pandangan

Apresiasi vs. keheranan dimana ada yang menyenangkan, ada yang kebingungan karena “kenapa gigi hitam jadi bagus?”

Sementara itu dari segi budaya dan komersialisasi, sebagian orang melihatnya sebagai penghormatan tradisi, sementara yang lain menilai bahwa tren ini hanya eksploitasi estetika tanpa memahami akar budaya.

Tren ini dipandang sebagai tantangan terhadap standar kecantikan Barat (gigi putih) oleh sebagian Gen Z, tetapi oleh sebagian lainnya dianggap “hanya demi viral” tanpa makna.

Analisis & Pandangan

Penyebab reaksi publik:

  1. Faktor emosional & estetika
    Gigi putih sejak lama dianggap simbol kesehatan, kebersihan, dan modernitas di banyak kultur Indonesia. Jadi ketika muncul tren yang berlawanan (gigi hitam), itu memicu reaksi emosional mulai dari keheranan hingga kekaguman akan keberanian.
  2. Faktor sosial & budaya
    Tren ini mengusik dua hal: satu, bahwa standar kecantikan didikte oleh Barat (gigi putih), dua, bahwa ada warisan budaya yang dilupakan dan sekarang diangkat kembali. Sehingga bagi sebagian Gen Z, ini menjadi bentuk identitas (terlebih yang punya darah Asia atau tertarik sub­kultur).
  3. Media sosial & viralitas
    TikTok, Instagram, media sosial lainnya punya peranan besar. Tren-tren cepat menyebar karena elemen visual yang ekstrem (gigi hitam) dan faktor “unik” yang memancing tontonan. Tanpa konteks sejarah, banyak yang ikut karena “keren” atau “aneh”.
  4. Budaya konsumsi & gaya hidup
    Subkultur streetwear, goth, punk yang sering bermain dengan “anti norma” estetika juga turut mendorong tren ini — di mana gigi hitam menjadi satu alat ekspresi.

Potensi Dampak

  1. Standar kecantikan baru: Jika tren ini terus berkembang, bisa menyebabkan standar kecantikan di kalangan muda Indonesia sedikit bergeser bahwa “unik” lebih dihargai daripada “seragam” (gigi putih saja).
  2. Pemahaman budaya: Ada potensi baik bahwa tren ini membuka dialog tentang tradisi Asia yang terlupakan, misalnya ohaguro di Jepang, dan nilai-nilai di baliknya. Jika disikapi dengan benar, ini bisa menjadi peluang edukasi budaya.
  3. Risiko estetika superficial: Namun, di sisi lain, jika hanya diadopsi sebagai tren tanpa memahami konteks, maka bisa jadi hanya tindakan untuk viral saja yang kemudian terkesan mereduksi makna tradisi menjadi sekadar “fashion”.
  4. Isu kesehatan & praktik aman: Karena tren ini mungkin mendorong praktik DIY atau penggunaan bahan yang tidak jelas untuk “menghitamkan” gigi, bisa muncul risiko kesehatan. Publik akan bertanya-tanya tentang keamanan jangka panjang.

Apakah ada pengaruh-nya terhadap pemasaran & industri kecantikan? Industri kecantikan bisa saja memanfaatkan tren ini, dari produk pewarna gigi hitam sementara hingga aksesori gigi. Ini bisa membuka pasar baru, tetapi juga memunculkan pertanyaan etis.

Kesimpulan

Tren teeth blackening yang kini viral di kalangan Gen Z menampilkan fenomena menarik di persimpangan estetika, identitas budaya, dan media sosial. Di satu sisi, tren ini merepresentasikan keberanian muda untuk menantang standar kecantikan umum; di sisi lain, ia juga mengundang pertanyaan: sampai sejauh mana kita memahami akar budaya dari apa yang kita adopsi?

Bagi pembaca, mungkin relevan untuk merenungkan: Apakah kita mengikuti tren karena benar-benar menghayati maknanya? Atau hanya karena ingin tampil “unik”? Dan lebih luas lagi, bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia menghormati warisan estetika tradisional tanpa menjadikannya sekadar “viral gimmick”?

Akhirnya, tren ini bisa menjadi pintu masuk untuk memahami lebih lanjut tentang estetika dan nilai-nilai di balik budaya Asia. Semoga kita bisa mengapresiasi dengan bijak, tidak hanya karena tampilannya, tetapi karena cerita yang ada di baliknya.

Bagaimana Menurut Anda?

Leave a Reply