Indonesia kembali mencatat langkah besar dalam perang melawan tuberkulosis (TBC). Baru-baru ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan izin resmi untuk memulai uji klinis fase I vaksin TBC berbasis inhalasi, menandai titik penting dalam inovasi kesehatan nasional.
Cari Berita Lengkap-nya? Klik Disini →
Apa Itu Vaksin TBC Inhalasi?
Vaksin yang diuji ini bernama AdTB105K, dikembangkan lewat kolaborasi antara PT Etana Biotechnologies Indonesia dan CanSino Biologics Inc. dari China. Vaksin ini menggunakan vektor adenovirus tipe 5 yang direkayasa membawa tiga antigen penting dari bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Metode pemberian lewat inhalasi (dihirup) memungkinkan vaksin ini merangsang respons imun pada saluran pernapasan — tempat infeksi TBC biasanya terjadi, sehingga diharapkan memberikan perlindungan yang lebih optimal.
Detail Uji Klinik Fase I
BPOM telah menerbitkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) Fase I untuk vaksin ini. Uji klinis melibatkan 36–38 orang dewasa sehat berusia 18–49 tahun.
Selama masa uji klinis, peserta akan dipantau selama 6 bulan setelah vaksinasi sekali inhalasi untuk melihat keamanan dan imunogenisitasnya. Penelitian ini akan dipimpin oleh Prof. dr. Erlina Burhan, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Mengapa Inovasi Ini Penting?
Indonesia adalah salah satu negara dengan beban TBC tinggi di dunia. Vaksin tradisional BCG, meskipun masih digunakan, belum memberikan proteksi optimal bagi orang dewasa dan infeksi paru.
Dengan solusi inhalasi, AdTB105K bisa jadi game changer karena mampu memicu pertahanan imun lokal (mukosa), yang sangat relevan untuk TBC paru.
Kolaborasi untuk vaksin ini mendapat dukungan penuh dari BPOM dan Kementerian Kesehatan. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan komitmen menyokong inovasi dengan pengawasan ketat agar semua prosedur berjalan sesuai standar keamanan dan etika.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyatakan bahwa vaksin inhalasi adalah “lompatan penting” dalam upaya eliminasi TBC nasional.
Tantangan & Peluang ke Depan
Peluang besar:
- Bisa memperkuat sistem pertahanan imun di saluran pernapasan.
- Menjadi vaksin booster inovatif bagi mereka yang sudah menerima vaksin BCG.
- Mendukung target eliminasi TBC Indonesia, misalnya lewat kolaborasi global.
Tantangan:
- Uji klinis masih di fase awal, jadi hasil jangka panjang (efikasi, keamanan) belum diketahui.
- Butuh investasi besar agar produksi skala besar bisa dilakukan di dalam negeri.
- Perlu edukasi dan penerimaan masyarakat terhadap vaksin berbasis inhalasi, karena metode ini masih relatif baru.
Inovasi TBC Lain dari Pemerintah
Sebelum vaksin inhalasi ini, Kementerian Kesehatan RI telah mengidentifikasi beberapa kandidat vaksin TBC lain yang potensial:
- Vaksin dari Gates / GSK (protein rekombinan)
- Kandidat mRNA bersama BioNTech / Biofarma
Langkah ini bagian dari strategi tiga inovasi Kemenkes: memperkuat deteksi TBC, mempercepat pengobatan, dan mendorong vaksin baru.
Kesimpulan
Uji klinis fase I vaksin TBC inhalasi di Indonesia adalah kabar sangat menggembirakan. Metode inhalasi membuka kemungkinan proteksi yang lebih kuat dan relevan terhadap infeksi paru yang jadi titik krusial dalam tuberkulosis. Dukungan pemerintah dan kolaborasi lintas sektor (Etana–CanSino–BPOM) memperlihatkan betapa seriusnya Indonesia menatap eliminasi TBC.
Namun, keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada hasil uji klinis, kesiapan produksi lokal, serta penerimaan publik. Bila berhasil, vaksin ini bisa jadi tonggak baru dalam strategi kesehatan nasional dan global.