Film Wasiat Warisan adalah film drama-komedi keluarga Indonesia yang disutradarai oleh Agustinus Sitorus. Film ini dirilis pada 4 Desember 2025 secara nasional.
Di film ini, pemain utama adalah Derby Romero, Astrid Tiar, dan Sarah Sechan. Mereka bertiga berperan sebagai saudara kakak-beradik dari suatu keluarga Batak.
Untuk visual, film mengambil latar alam yang memukau: pemandangan indah di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir, yang selain menjadi suguhan estetis juga memperkaya nuansa budaya Batak dalam cerita.
Menurut tim kreatif, film ini mengombinasikan sekitar 70% drama dan 30% komedi, sehingga meski konflik terasa berat, tetap ada unsur ringan yang membuat cerita lebih “manusiawi.”
Sinopsis “Wasiat Warisan”: Cerita, Konflik & Perjuangan
Setelah keluarga mereka kehilangan orang tua, Pak Gomgom dan Mak Dame, tiga bersaudara: Tarida, Ramona, dan Togar tiba-tiba diwarisi sebuah hotel keluarga di tepi Danau Toba. Hotel ini dulunya milik orang tua mereka, tetapi sejak lama terbengkalai.
Togar yang selama ini hidup merantau di Jakarta dipaksa kembali ke kampung, meninggalkan kenyamanan kota untuk bersama dua kakaknya mengurus hotel warisan. Harapan awal mereka sederhana: menghidupkan kembali hotel dan menjaga warisan orang tua.
Namun kenyataan jauh lebih rumit. Tiba-tiba muncul seorang wanita bernama Linda yang mengaku pihak luar memiliki piutang lama kepada almarhum orang tua mereka, dan hotel itulah yang dijadikan jaminan utang. Bila tidak bisa melunasi, hotel akan disita.
Situasi ini memicu konflik besar di antara ketiga saudara. Mereka mulai saling menyalahkan atas janji, kesalahan masa lalu, dan harapan yang berbeda. Ketegangan bukan hanya soal uang, tapi soal rasa sakit hati, kekecewaan, dan keinginan untuk melindungi warisan keluarga.
Seiring cerita berkembang, rahasia lama orang tua mereka juga perlahan terkuak — sesuatu yang membuat ketiganya harus menilai ulang makna “warisan”. Ternyata warisan bukan hanya soal harta, tetapi beban emosional, tanggung jawab moral, serta kenangan.
Dalam perjalanan emosional itu, muncul dinamika menarik: pertengkaran, tanggung jawab, pengkhianatan, namun juga usaha saling memaafkan, berdamai, dan mempererat kembali ikatan darah. Film ini menunjukkan bahwa ketika keluarga diuji, cinta dan tanggung jawab seringkali lebih berharga dari materi.
Selain konflik warisan dan utang, ada subplot soal cinta lama, nostalgia masa lalu, dan upaya mencari identitas — yang memberi warna lebih kompleks daripada sekadar “konflik warisan”.
Nilai, Budaya & Pesan Moral dalam Film
Warisan bukan sekadar aset. Film ini menekankan bahwa warisan keluarga bisa membawa beban — bukan hanya harta, tapi tanggung jawab, kenangan, dan masa lalu.
Kekuatan komunikasi & kejujuran: Konflik muncul bukan hanya dari fakta warisan, tapi dari rahasia, kesalahpahaman, dan rasa sakit yang dipendam. Untuk keluar dari konflik, ketiga saudara harus belajar jujur, terbuka, dan saling mendukung.
Identitas & akar budaya: Dengan latar Danau Toba dan budaya Batak, film ini juga mengajak penonton menghargai warisan budaya, bahwa menjaga warisan bukan cuma dari segi fisik, tapi juga identitas dan sejarah keluarga.
Makna keluarga & persaudaraan: Di tengah kekacauan, ikatan darah dan rasa memiliki bisa menyatukan kembali. Warisan terbaik mungkin bukan harta, tapi keluarga itu sendiri.
Pandangan Saya tentang Cerita “Wasiat Warisan”
Menurut saya, Wasiat Warisan punya kekuatan tersendiri sebagai film keluarga, bukan hanya karena konflik layaknya drama keluarga khas, tapi karena menggabungkan unsur sosial, budaya, dan emosional dengan sangat manusiawi.
Konflik warisan dan utang adalah isu yang relevan dan dekat dengan kenyataan banyak keluarga, sehingga cerita ini bisa “ngena” ke penonton dari berbagai latar belakang, bukan cuma mereka yang berdarah Batak.
Menarik juga bagaimana film ini menampilkan keindahan alam Danau Toba dan budaya lokal. Ini menjadikannya tak sekadar hiburan, tapi juga ajakan untuk mengenang, mencintai, dan menjaga akar budaya sendiri.
Dalam skema yang lebih luas, film ini bisa menjadi refleksi tentang apa arti warisan, bahwa warisan terbesar mungkin bukan harta, tapi kasih sayang, pengertian, dan tanggung jawab satu sama lain.
Karena itu, saya percaya Wasiat Warisan cocok ditonton bukan cuma oleh penikmat sinema, tapi juga oleh keluarga yang ingin merenung tentang arti persaudaraan dan tanggung jawab.