Industri kecantikan di Indonesia tengah memasuki fase transformatif. Konsumen muda tidak lagi hanya mengejar kulit cerah atau wajah yang ramping.
Mereka juga menuntut produk dan perawatan yang bersifat etis, ramah lingkungan, serta mendukung kesehatan kulit secara menyeluruh.
Cari Berita Lengkap-nya? Klik Disini →
Menurut data riset dari Populix yang dikutip oleh Liputan6, generasi milenial dan Z di Indonesia mengutamakan enam tren utama dalam skincare:
- Produk vegan dan cruelty-free
- Bahan fermentasi dan probiotik
- Dukungan AI dalam skincare
- Formulasi berbasis sains dan dermatologi
- Hybrid skincare + makeup
- Clean beauty atau produk ramah lingkungan
Misalnya, tren “clean beauty” menjadi yang paling populer dengan 54 % responden menyatakan bahwa hal tersebut akan terus menjadi pilihan dalam beberapa tahun ke depan.
Tak hanya produk saja, model perawatan juga berevolusi. Dalam acara “Future Beauty Talk 2025” yang dikutip Liputan6, pengusaha kecantikan menyebut bahwa kosmetik padat (solid cosmetic) akan mengalami lonjakan permintaan, sebab kemasannya lebih sedikit limbah dan lebih praktis dipakai. Sementara itu, konsep “neuroscience cosmetic” yang memadukan teknologi dan kesehatan kulit juga mulai muncul sebagai tren.
Selain itu, perhatian konsumen juga mulai meluas ke segmen perawatan bayi dan lansia menandakan bahwa industri kecantikan tidak hanya berfokus pada wajah muda tetapi juga seluruh rentang usia.
Di sisi sosial budaya, definisi kecantikan di Indonesia mulai bergeser. Standar lama yang menekankan kulit cerah dan wajah ramping kini mendapat tantangan oleh gaya hidup slow beauty. Pendekatan merawat secara lembut, berkelanjutan, dan menghargai kondisi kulit alaminya.
Hal ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin kritis terhadap apa yang mereka pakai dan inginkan dari produk kecantikan bukan hanya hasil instan, tetapi juga dampak panjang dan keberlanjutan.
Tantangan untuk industri jelas cukup besar. Merek-merek lokal dan global harus menyesuaikan diri dengan konsumen yang makin sadar: mereka ingin formulasi yang terbukti secara ilmiah, bahan yang transparan, kemasan yang lebih hijau, dan pengalaman pengguna yang personal (termasuk penggunaan teknologi AI). Jika tidak, risiko tertinggal dalam persaingan akan meningkat.
Untuk konsumen, pesan utama adalah pilih produk yang sesuai dengan kondisi kulit dan nilai pribadi Anda, seperti keberlanjutan dan etika, dan jangan hanya tergiur hasil instan semata. Karena tren memang berubah, tetapi kesehatan kulit jangka panjang adalah investasi yang tidak bisa diabaikan.
Industri kecantikan Indonesia sedang berada di persimpangan penting, antara tradisi perawatan kulit yang berbasis hasil visual cepat, dan masa depan yang menekankan well-being, personalisasi, dan keberlanjutan. Bagi konsumen yang semakin matang, inilah kesempatan untuk memilih secara lebih sadar dan bijak. Bagi pelaku industri, ini adalah panggilan untuk berinovasi dengan integritas.
Tas Kerja Wanita Stylish & Muat Banyak!
🌟 Elegan, kuat, dan luas! Muat laptop & kebutuhan kerja, cocok untuk wanita aktif tampil rapi setiap hari. ✨
~ shopee.co.id ~
Upgrade Jam Tanganmu Sekarang!
⚡ Smartwatch modern dengan fitur lengkap: detak jantung, olahraga, dan tahan air. Praktis & kekinian. 🌸
~ shopee.co.id ~
Artikel Terkait
Menyelami Pameran Kecantikan 2025: Peluang, Tren & Inovasi Industri
Klinik Kecantikan Berbasis AI Makin Dibutuhkan di Indonesia
Kembalinya Sinta & Jojo (keong racun): Tirukan Tren Makeup Douyin, Netizen Heboh Wajah Awet Muda
Menperin Fokuskan Kemandirian Bahan Baku Lokal untuk Kosmetik & Farmasi: Strategi Kuat Memperkuat Industri Dalam Negeri
Tren “Teeth Blackening” Kembali Viral di Media Sosial
Bahaya Tersembunyi: Isu Keamanan Produk Kecantikan yang Harus Dipahami Konsumen